Abah Amun adalah seorang lansia berusia 70 tahun yang menjalani hari-harinya dalam kesunyian dan keterbatasan. Di rumah peninggalan orang tuanya, Abah tinggal seorang diri. Abah sudah lama berpisah dengan istrinya dan hanya memiliki satu orang anak. Sayangnya, kondisi ekonomi sang anak yang hanya bekerja serabutan membuatnya tidak lagi mampu membantu memenuhi kebutuhan harian Abah.

Untuk bertahan hidup, Abah Amun berjualan kopi keliling dengan harga Rp5.000 per gelas. Sudah sekitar 15 tahun Abah mencoba berbagai macam usaha kecil, mulai dari berjualan kerupuk, telur puyuh tanggung, balon, hingga akhirnya kopi. Dari semua usaha itu, kopi menjadi modal terakhir yang Abah miliki. Dengan sisa uang Rp50.000, Abah membeli tiga renceng kopi dengan harapan masih bisa menyambung hidup. Namun, penghasilan dari berjualan kopi sangat terbatas. Dalam sehari, Abah hanya mampu makan dua kali, biasanya di siang dan malam hari. Ketika dagangan sepi, Abah sering kali hanya minum air untuk menahan lapar. Rasa sakit di perut mungkin sudah terbiasa, tetapi pusing sering menyerangnya.
Kondisi tempat tinggal Abah pun memprihatinkan. Rumahnya sering gelap karena Abah tidak mampu membeli token listrik. Hingga empat bulan lalu, lantai rumah Abah masih berupa tanah. Saat hujan datang, rumah tersebut selalu kebanjiran. Rumah yang lembap membuat kondisi Abah semakin rentan sakit. Air sumur di rumahnya pun tidak layak digunakan, sehingga Abah terpaksa mandi di masjid dengan biaya Rp15.000 per bulan.
Selain keterbatasan ekonomi, Abah juga harus menghadapi masalah kesehatan. Selama enam tahun terakhir, Abah menderita penyakit kulit yang bermula saat ia berniat membantu seorang nenek membersihkan selokan di depan gang agar tidak banjir. Setelah itu, bercak-bercak putih mulai muncul di belakang lutut, ketiak, dan pangkal paha. Hingga kini, Abah belum mendapatkan pengobatan yang layak dan berkelanjutan.
Cobaan hidup Abah belum berhenti di situ. Beberapa waktu lalu, Abah pernah tertabrak mobil saat menyeberang jalan. Ia sempat tidak sadarkan diri dengan darah bercucuran. Meski seharusnya menjalani operasi, Abah menolak karena tidak ingin memberatkan orang yang menabraknya. Ia hanya menerima empat jahitan di pelipis. Setelah kecelakaan itu, Abah sempat kesulitan menelan makanan selama dua minggu.
Kini, Abah Amun terus berjuang dengan sisa tenaga dan harapan yang ia miliki. Bantuan kita sangat berarti untuk membantu Abah memenuhi kebutuhan hidup, berobat, dan menjalani hari tuanya dengan lebih layak dan manusiawi.
Jika belum bisa berdonasi, mohon bantu dengan membagikan halaman galang dana ini, agar semakin banyak tangan baik yang ikut menggenggam harapan mereka.

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com

*Page ini merupakan bagian dari program Semua Berhak Nyaman.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.
*Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memberikan Paket Sembako, Bantuan Modal Usaha Penerima Manfaat, dan Bantuan Lainnya kepada para penerima manfaat yang membutuhkan. Selain itu hasil donasi juga akan disalurkan untuk penerima manfaat lainnya berdasarkan analisa kebutuhan pihak Yayasan.