Di usia 78 tahun, Abah Asep masih mendorong gerobak cendolnya sejauh 10 km setiap hari. Sejak subuh ia berangkat ke pasar, menyiapkan dagangan, lalu berkeliling hingga petang. Semua itu ia lakukan demi istri, cucu, dan dua anak kembar yatim piatu dari adiknya yang meninggal.
Abah adalah satu-satunya tulang punggung keluarga. Tidak ada penghasilan lain. Dari dagangan cendolnya, ia hanya membawa pulang Rp10.000–Rp30.000 per hari. Jumlah itu bahkan tak cukup untuk menutupi modal dan kebutuhan makan keluarga.
Fisiknya kini sering melemah, nafasnya sering sesak, kakinya mudah lelah. Abah juga sering merasa tubuhnya sakit akibat dari ditabrak motor saat berjualan. Namun Abah tak pernah mengeluh. Ia memilih bekerja daripada meminta-minta.
Nafasnya sering sesak, kakinya mudah lelah, apalagi setelah pernah ditabrak motor hingga gerobaknya rusak. Namun Abah tak pernah mengeluh. Ia memilih bekerja daripada meminta-minta,
Mari kita bantu Abah Asep mewujudkan warung impiannya, supaya ia bisa bekerja lebih ringan dan merawat keluarganya dengan tenang di masa tuanya.