Di Usia 74 Tahun, Abah Udi Masih Keliling Nawarin Jasa Timbangan Bukan Karena Mau, Tapi Karena Harus
Abah Udi sudah berusia 74 tahun, tapi masih keliling jalan kaki membawa timbangan dan alat cek darah. Bukan karena ingin, tapi karena harus. Penghasilannya nggak pernah pasti bahkan sangat minim dan itu pun masih harus dipotong ongkos.
Padahal Abah masih harus kirim uang buat istrinya di kampung dan berusaha nggak jadi beban anaknya di kota. Kalau nggak sempat makan saat keliling, Abah lebih milih nahan lapar sampai pulang. Kadang cuma ganjel perut pakai kopi dan roti supaya kuat lanjut jalan.
Sekarang orang-orang lebih milih cek darah di klinik atau dokter. Jasa keliling seperti Abah makin jarang dipakai. Padahal jasanya murah banget timbangan cuma Rp2.000 tapi masih sering ditawar, bahkan ada yang pakai jasanya tanpa bayar sama sekali. Timbangan Abah juga sudah tua dan kurang layak, itu bikin pelanggan makin berkurang.
Di usia setua ini, Abah cuma pengin tetap bisa kerja dengan layak dan tetap bantu istrinya. Sedikit bantuan dari kita bisa jadi penyelamat buat Abah Udi supaya ia nggak terus berjalan dalam lapar dan lelah sendirian.