Ketika Kebanyakan orang menikmati hari tua dengan tenang, Abah Hadri justru harus berjuang seorang diri demi sekedar bisa makan sehari-hari.
Abah Hadri adalah seorang lansia yang hidup sebatang kara. Tanpa keluarga, tanpa siapa pun yang mendampingi, beliau tetap memikul semangat hidup meski tubuhnya sudah renta dan sakit-sakitan.
Setiap hari, Abah berjalan dari rumah ke rumah menjajakan sapu yang ia jual. Penghasilan bersihnya tak lebih dari Rp10.000 per hari. Kadang dagangannya tak laku sama sekali. Meski begitu, Abah menolak untuk kembali mengemis. Dengan suara lirih, beliau berkata:
“Dulu abah pernah ngemis… tapi lebih baik abah jualan saja, biar sedikit yang penting halal.”
Sebelum berjualan, Abah selalu menyempatkan diri mampir ke makam kedua orang tuanya, berdoa agar dagangannya laku. Dan setiap pagi, Abah hanya membeli sebungkus nasi kuning, nasi itu akan dimakannya dua kali, pagi dan sore, demi menghemat uang.
Namun, kini kondisi fisiknya semakin terbatas. Abah sering merasa pusing, sesak, dan kakinya sakit jika harus berjalan jauh. Karena itu, ia sangat berharap bisa mendapatkan modal usaha untuk membuka warung sembako kecil di depan rumahnya, agar tidak perlu lagi berkeliling sambil menahan sakit.
Orang baik,bayangkan Seorang kakek tua, berjualan sapu keliling dengan tubuh ringkih, hanya untuk sekedar makan. Tidak ada keluarga yang menemaninya, tidak ada yang merawat, kecuali keteguhan hatinya untuk tetap hidup.
Mari bantu ringankan beban beliau dengan cara:
1.Klik Donasi Sekarang
2.Masukan Nominal Donasi
3.Pilih Metode Pembayaran
4.Dapatkan Laporan Via Email
Kamu juga bisa bagikan galang dana ini agar semakin banyak do’a dan dukungan yang terkumpul. Aamiin