Bayangkan usia 70 tahun. Orang lain mungkin sudah duduk tenang di rumah bersama keluarga, menikmati masa tua. Tapi tidak untuk Abah Sulaiman.
Setiap hari, Abah berjalan menyusuri jalanan Bandung. Menggendong tas kecil berisi kawat berkarat dan alat service seadanya. Satu-satunya keahlian yang ia punya sejak muda yaitu memperbaiki payung.
Bukan usaha yang menjanjikan. Penghasilan sehari kurang dari Rp 30.000, bahkan tidak ada sama sekali.
Tapi Abah tetap berkeliling, mencari nafkah bagi keluarga di kampung. Tanpa tempat tinggal.
Jika lelah, Abah akan mencari masjid. Tidur di belakangnya, meringkuk tanpa alas, hanya berteman sarung tipis dan bantalan tas.
Setiap kali bisa makan dari pemberian orang baik, hati Abah berat.
“Enak ya, bisa makan. Tapi… istri dan cucu saya di kampung, mereka makan apa hari ini?”
Air mata tak selalu jatuh, tapi perasaan itu terus menghantui.