
Selama 43 tahun, Abah Adun Badrudin mengandalkan satu keahlian sederhana: servis payung. Kini di usia 73 tahun, dengan tubuh yang semakin lemah dan penglihatan yang buram pasca operasi katarak, Abah tetap berjalan kaki dari pagi hingga malam. Bukan karena masih kuat, tetapi karena tidak punya pilihan lain. Upah servis payung yang hanya Rp10.000 sering kali bahkan tak cukup untuk makan sehari.

Di balik langkahnya yang tertatih, Abah menahan banyak sakit. Ia didiagnosis lemah jantung dan lambung kronis, namun tidak mampu berobat secara layak. Untuk menahan nyeri, Abah hanya mengandalkan balsem dan obat murah Rp6.000 per strip. Dalam sehari, Abah dan istrinya kerap hanya makan satu kali. Sementara itu, kontrakan mereka sudah menunggak dua bulan, membuat keduanya hidup dalam ketakutan akan kehilangan tempat berteduh.

Abah tidak meminta belas kasihan. Ia hanya ingin tetap bertahan hidup dengan caranya sendiri dan tidak meninggalkan istrinya tanpa apa-apa. Melalui campaign ini, uluran tangan Anda akan membantu memenuhi kebutuhan makan, pengobatan, dan tempat tinggal Abah Adun. Sedikit kebaikan dari Anda adalah harapan besar bagi dua lansia yang terus berjuang dalam senyap.