Kami tak sengaja bertemu Abah Endang yang saat ini berusia 55thn, saat kami melewati jalan TK di Lembang, ketika kami pergi membeli makanan di depan TK, Abah Endang pun membuat fokus kami teralihkan. Kami pergi menghampiri Abah dan mulai mempertanyakan satu demi satu pertanyaan, salah satu pertanyaan yang kami ajukan yaitu kami mempertanyakan kondisi tubuhnya yang terlihat lelah dan adanya benjolan benjolan di seluruh tubuhnya.
Dengan perasaan sedih seolah Abah baru saja mengeskpresikan emosi yang dia pendam selama ini. Abah menjawab bahwa penyakit ini datang dari semenjak beliau lahir, beliau selama ini berjualan dengan kondisi tubuh seperti itu. Banyaknya cemoohan dari warga sekitar atas kondisinya tak membuat Abah goyah untuk tetap mencari nafkah.
Abah Endang berjualan mainan dari sejak tahun 1991, beliau dan keluarga selama ini hidup dengan mengandalkan dari hasil jualan mainan saja, yang perharinya hanya menghasilkan rata rata 30rb, itupun sebagian besar orang- orang membeli karena rasa iba kepada Abah, akan tetapi jika tidak ada pembeli sama sekali dan tidak ada penghasilan yang Abah hasilkan, Abah dan keluarga berpuasa dan tidak makan sama sekali, mereka hidup di rumah yang terbilang tak layak untuk di tempati, lingkungan yang tak sehat serta tempat tidur yang sempit.
Dari rumah ke pusat kota tempat Abah berjualan yaitu sekitar 10km, setiap harinya Abah pulang pergi berjalan kaki dengan mendorong gerobak usang yang Abah buat sendiri, beliau membuatnya pada awal beliau jualan hingga saat ini. Tanjakan, belokan, turunan tajam yang setiap harinya beliau lewati dengan keringat membasahi tubuhnya. Rasa gatal, perih, dan sakit Abah menahannya demi mencari nafkah untuk keluarga.
Kami mengikuti Abah untuk melihat perjalanan serta kondisi rumah Abah saat itu, yang kami kira benjolan- benjolan itu hanya ada dibagian lengan, kaki, dan wajahnya saja, ternyata dibagian lainnya juga Abah banyak sekali benjolan, kami kaget dan merasa sedih saat Abah memperlihatkan kondisi tubuhnya dibagian punggung serta perutnya, benjolan itu sangat besar. Abah tak bisa pergi berobat karena tidak biaya transportasi serta lain sebagainya.
Tak hanya itu, kami juga bertemu dengan anaknya yang paling kecil, yang saat ini duduk di bangku kelas 6 SD. Anak Abah bercerita kesedihan yang ia alami dan rasa sakit yang seringkali dia rasakan, ketika orang lain membuli dia dengan menyangkut pautkan Abah, teman temannya berucap “ Anak Tukang Baso” yang dimana arti dari kalimat itu karena Abah banyak benjolan, pedahal Abah sendiri tak berjualan baso sama sekali.
Motivasi Abah yang membuat Abah bertahan dengan kondisinya saat ini yaitu keluarga. Harapan Abah kedepannya, Abah ingin sekali bisa memperbaiki gerobak mainannya, atau bahkan membuka toko mainan sendiri. Abah juga berharap, Abah bisa membahagiakan keluarganya dan membawa keluarga makan makanan enak seperti orang lain.
Teman-teman, mari bantu wujudkan impian Abah Endang dan berikan uluran tangan dengan cara: