"Sekolah di pagi hari, jadi tulang punggung di sore hari."
Mungkin kalimat itu yang paling tepat menggambarkan hidup Nia, Dimas, Nayla, dan Wina. Di usia yang seharusnya penuh dengan tawa dan permainan, empat anak hebat ini sudah harus memikul beban hidup yang berat. Mereka bukan sedang bermain peran, tapi sedang berjuang melawan kemiskinan demi keluarga yang mereka cintai.
Potret Perjuangan di Balik Pundak Kecil Mereka:

Di satu sudut kota, ada Nia (11th) yang berjalan tertatih memikul keranjang kue hingga jam 9 malam. Di balik senyumnya saat menawarkan dagangan, Nia sedang menahan sakit akibat epilepsi yang dideritanya sejak bayi. Baginya, satu botol obat seharga 200 ribu adalah kemewahan yang sulit digapai. Seringkali, ia dan adiknya harus berbagi satu bungkus nasi seharga 5 ribu rupiah agar perut mereka tidak kosong.

Tak jauh berbeda, ada Dimas (12th). Meskipun memiliki keterbatasan bicara (speech delay) dan sering menjadi sasaran perundungan di sekolah, Dimas tak pernah absen berjualan mochi. Setiap langkahnya adalah upaya untuk membantu ayahnya yang kuli bangunan membayar kontrakan dan melunasi utang modal sang ibu. Ia tak ingin melihat ibunya terus-menerus meminjam uang hanya agar mereka bisa makan.

Di trotoar pasar yang ramai, kita juga bisa menemui Nayla (10th). Siswi kelas 4 SD yang rajin menghafal Al-Quran (Tahfidz) ini tetap semangat berjualan stiker dan kerupuk meski tak memiliki buku paket untuk belajar. Baginya, terserempet motor atau ditipu pembeli adalah risiko yang harus ia telan demi mimpinya menjadi seorang Polwan.

Sementara itu, Wina (12th) harus menelan kenyataan pahit akibat perpisahan orang tuanya. Tinggal bersama sang uwa, Wina tak ingin terus-terusan mengandalkan belas kasihan. Ia memilih berkeliling jualan cilung, menabung sedikit demi sedikit agar kelak bisa memiliki sepatu baru dan mewujudkan impiannya masuk ke pesantren.
Nia, Dimas, Nayla, dan Wina adalah bukti bahwa harapan selalu ada di hati yang kuat. Namun, pundak kecil mereka tak selamanya sanggup menahan beban sebesar ini sendirian.

Mari kita bersama-sama memastikan bahwa langkah mereka menuju sekolah tidak terhenti karena harus berjualan di jalanan. Sedikit dari kita, segalanya bagi mereka
.