Di usia 11 tahun, Ayu seharusnya berada di bangku sekolah, bermain dan belajar seperti anak-anak lainnya. Namun sejak ibunya meninggal lima tahun lalu akibat jantung bocor, hidup Ayu berubah drastis. Ia kini tinggal bersama ayahnya di sebuah gubuk kecil yang hanya cukup untuk tidur tanpa dapur, kamar mandi, maupun ruang makan. Tempat tinggal itu pun terancam digusur, membuat Ayu hidup dalam ketakutan kehilangan rumah untuk kedua kalinya.

Ayah Ayu, Pak Ade, sebelumnya bekerja sebagai tukang sol sepatu. Demi biaya pengobatan istrinya, ia menjual motor dan akhirnya kehilangan kontrakan. Sejak itu, Pak Ade beralih menjadi pemulung dengan penghasilan yang sangat tidak menentu bahkan sering kali hanya cukup untuk makan sekali sehari. Dalam sebulan, penghasilan mereka hanya sekitar Rp200.000–Rp300.000, dibantu sesekali oleh RT atau rumah makan di sekitar tempat tinggal mereka.

Karena keterbatasan biaya dan tidak adanya kendaraan, Ayu terpaksa putus sekolah. Setiap hari ia ikut membantu ayahnya memulung, berjalan jauh dari pagi hingga malam untuk mencari sampah yang bisa dijual. Meski tubuhnya masih kecil, Ayu memikul beban yang terlalu besar untuk usianya. Ia sering menangis diam-diam saat melihat teman-temannya bisa bersekolah, sementara ia harus berjuang di jalanan.

Ayu tidak meminta banyak. Ia hanya ingin kembali sekolah, memiliki seragam dan alat tulis, serta tinggal di tempat yang lebih layak agar tidak kehujanan dan kedinginan. Dengan bantuan Anda, Ayu bisa mendapatkan kembali haknya sebagai anak belajar, bermimpi, dan meraih masa depan yang lebih baik bersama ayahnya.