Bah Uun setiap hari menjual martabak mini seribu rupiah dari adonan setengah kilo yang hanya menghasilkan sekitar 25 ribu rupiah. Ia berjualan pagi di sekolah dan sore di madrasah, namun rata-rata keuntungan yang dibawa pulang hanya 20 ribu. Di kampung yang sepi pembeli, ia tetap memaksakan diri berjualan demi kebutuhan makan keluarga.
Usianya yang makin renta membuat pekerjaannya semakin berat. Tabung gas, teflon, dan peralatan dagang harus ia angkat sendiri, sementara motor tua seharga satu juta yang dibeli dengan cicilan sering hampir menjatuhkannya. Meski begitu, Bah Uun tetap berkeliling karena tanpa itu, dapur mereka tak akan menyala.


Emak, istrinya yang berusia 55 tahun dan hanya bisa melihat dengan satu mata, ikut membantu dengan membuat jajanan anak-anak. Penghasilannya hanya 10 - 30 ribu per hari. Anak mereka, Neneng, usia 33 tahun, masih menjadi tanggungan karena ijazahnya sulit diterima dan akses rumah yang jauh membuatnya sulit bekerja, meski ia sebenarnya sangat berprestasi.
Setelah rumah lama mereka digusur di ujung kota, keluarga ini tinggal di rumah kecil di atas tanah pemerintah dengan segala keterbatasan. Mereka bahkan tidak mampu memperbaiki box dagangan yang pecah. Harapan mereka sederhana peralatan dagang yang layak agar Bah Uun bisa berjualan di depan rumah, tanpa harus keliling dan tanpa mempertaruhkan keselamatannya setiap hari.


Insan Baik, mari kita wujudkan mimpi-mimpi Abah Uun dan Emak agar mereka bisa berjualan dengan layak, sehingga mereka bisa mencari nafkah tanpa harus kesusahan dan kecapean lagi.
