Di usia 9 tahun, Rulfi Destian Malik sudah memahami arti tanggung jawab. Saat anak-anak seusianya bermain sepulang sekolah, Rulfi justru berjalan menyusuri pemukiman dan pasar, menjajakan cireng buatan ibunya. Ia tahu, setiap cireng yang terjual adalah harapan agar keluarganya bisa makan dan bertahan hari itu. Bahkan pernah, seharian berjualan hanya laku 10 cireng saja.

Rulfi hidup bersama ibunya dan keluarga dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas. Penghasilan ibunya sebagai penjual cireng tidak menentu, sementara mereka masih harus mengontrak rumah. Kebutuhan hidup sering kali tidak terpenuhi, hingga perlengkapan sekolah Rulfi pun mulai rusak. Sepatu sekolahnya sudah tak layak, namun ia tetap berangkat belajar tanpa mengeluh.

Demi meringankan beban keluarga, Rulfi rela mengorbankan waktu bermainnya. Ia berjualan bukan karena dipaksa, melainkan karena ingin membantu ibunya dan berharap bisa membeli kebutuhan sekolah sendiri. Kakak-kakaknya bahkan harus putus sekolah karena keterbatasan biaya, membuat Rulfi semakin kuat memikul peran kecil yang begitu besar.

Di balik perjuangannya, Rulfi menyimpan harapan sederhana: memiliki sepatu sekolah yang layak dan baju Lebaran seperti anak-anak lainnya. Insan Baik, mari hadir untuk Rulfi. Bantuan Anda akan membantu memenuhi kebutuhan sekolah, meringankan beban keluarga, dan mengembalikan hak Rulfi untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi seperti anak seusianya.