Setiap siang, suara keranjang Abah Ahmad yang terseret pelan mengisi gang-gang sempit di kampung. Di balik tubuh renta dan kaki yang tak sempurna, ia terus melangkah meski tak bisa benar-benar berjalan. Terlahir dengan disabilitas dan kini terkena stroke yang membuatnya sulit bicara, Abah tetap membawa dagangan sayur keliling, demi sesuap nasi untuk keluarganya.
Tak banyak yang bisa Abah hasilkan. Dalam sehari, paling banyak hanya 30 ribu rupiah. Itu pun kadang tak cukup untuk makan. Tak jarang, Abah hanya menyantap nasi dan garam, menahan lapar dengan sabar, menepis rasa sakit yang tak pernah benar-benar pergi.
Namun tak sekalipun keluh keluar dari lisannya. Ia hanya tersenyum, meski dunia seolah tak memberinya ruang untuk beristirahat.
Abah Ahmad tak pernah meminta-minta. Ia hanya ingin tetap bekerja, tetap berguna. Tapi hari-harinya kini semakin berat. Usianya kian menua, tubuhnya makin lemah. Jalan yang dulu bisa ia lewati, kini terasa seperti bukit terjal yang harus ditaklukkan seorang diri.
Selain hidup dengan penuh keterbatasan,abah juga mengidap stroke yang membuat abah kesulitan dalam berbicara. Namun itu bukan halangan bagi abah untuk terus bisa mencari nafkah dan menjalani hari-hari abah dengan penuh syukur dan keceriaan
Abah Ahmad adalah contoh nyata bahwa meski hidup penuh rintangan, semangat, syukur, dan kerja keras tak pernah sia-sia. Ia mengajarkan kita untuk tetap teguh, meski dunia tak selalu ramah.
Teman-teman, mari bersama-sama kita ringankan beban Abah Ahmad agar beliau bisa hidup sejahtera!