MATA KABUR !! Tolong Lansia Penjual Petai Berjuang Nafkahi Istri

MATA KABUR !! Tolong Lansia Penjual Petai Berjuang Nafkahi Istri

Rp 120.000
terkumpul dari Rp 30.000.000
4 Donatur
19 hari lagi
Bantu Sekarang!
Terakhir diperbarui pada 16 January 2026 09:00 WIB

Penggalang Dana

Cancer Support Kuningan

Lembaga Resmi Terverifikasi
Menggalang Dana Untuk:
Pendengaran dan Penglihatan Mulai Berkurang! Lansia Penjual Petai Ini Tetap Berjuang Demi Nafkah

Kerjasama Campaign Iklan Berbayar

Penerima Manfaat dan Penggalang Dana telah menyetujui untuk menggunakan sebagian dana yang terkumpul untuk dilakukan optimasi di sosial media oleh pihak ketiga agar dapat menjangkau lebih banyak kontribusi publik.

Deskripsi

05 January 2026

Di usia 73 tahun, saat kebanyakan orang menghabiskan hari dengan beristirahat, Abah Damiri justru masih harus berjalan kaki menyusuri jalanan. Dengan penglihatan yang semakin kabur dan pendengaran yang melemah, Abah tetap menggenggam ikat-ikat petai, menawarkan dagangannya dari pagi hingga sore hari. Setiap langkah tertatihnya adalah perjuangan untuk satu tujuan sederhana, bisa makan hari ini.

 

 

Dulu Abah Damiri bekerja sebagai tukang becak. Namun usia dan kondisi fisik memaksanya berhenti. Sejak itu, Abah beralih berjualan petai. Sayangnya, dagangannya sering kali tak habis terjual. Petai yang tak laku harus dibawa pulang kembali, bersama rasa lelah dan kekhawatiran tentang hari esok. Penghasilannya tidak menentu, bahkan sering kali hanya cukup untuk sekali makan.

 

Abah sebenarnya memiliki anak, tetapi mereka hidup terpisah dengan kondisi ekonomi yang juga pas-pasan. Bantuan yang diharapkan tak selalu datang. Beruntung, masih ada orang-orang baik di sekitarnya yang sesekali memberikan makanan. Namun tentu, hidup tak bisa selamanya bergantung pada belas kasihan.

 

 

Di balik kegigihannya berjualan, Abah menyimpan beban lain. Hutang lama yang belum lunas, sisa dari usaha kecil yang pernah ia coba bangun setelah berhenti menarik becak. Ia juga harus rutin memeriksakan kondisi kakinya yang sudah sakit selama kurang lebih empat tahun. Sayangnya, berobat ke dokter sering kali menjadi pilihan terakhir, hanya saat ada uang lebih.

 

Setiap pulang berjualan, Abah kerap mengeluh sakit pada kakinya. Istrinya, Mak Rasih, setia memijat kaki Abah sambil menahan sedih.

“Kalau enggak jualan, gimana mau makan… anak-anak juga enggak punya,” ucap Mak Rasih lirih.

 

Di usia senja, Abah Damiri dan Mak Rasih tidak bermimpi muluk. Mereka hanya berharap bisa memiliki usaha kecil di rumah, agar Abah tak perlu lagi berjalan jauh setiap hari. Salah satu harapan sederhana mereka adalah membuka usaha bensin eceran di depan rumah. Namun tanpa modal, harapan itu masih sebatas doa.

 

Orang Baik, maukah kamu membantu meringankan beban Abah Damiri?🥺

 

Bantuanmu hari ini bisa menjadi jalan agar Abah dan Mak Rasih menjalani hari tua dengan lebih layak, tanpa harus mempertaruhkan kesehatan demi sesuap makan.❤️

Disclaimer : Informasi, opini dan foto yang ada di halaman galang dana ini adalah milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah/kecurigaan silakan lapor kepada kami disini.

Doa & Donasi Teman Peduli

Rina

09 January 2026
Rp 20.000
Amin