Di usia 66 tahun, beliau masih berjualan mainan anak-anak kincir warna-warni, totoroktokan, balon, hingga mainan lele-lelean. Mainan sederhana yang kini jarang dilirik anak zaman sekarang.
Abah tinggal di pelosok kampung. Untuk berjualan di kota, beliau harus “menumpang” truk pasir yang melintas. Bukan karena ingin, tapi karena tak sanggup mengeluarkan ongkos. Dari pagi hingga 11 bahkan 12 malam, Abah berdiri di pinggir jalan, menunggu pembeli yang belum tentu datang.
Penghasilan kotornya hanya 10–30 ribu rupiah per hari. Jika dagangannya laku 20 ribu, untung yang dibawa pulang hanya sekitar 5 ribu rupiah.
Kadang per mainan, keuntungannya hanya 500 hingga 2 ribu rupiah.
Lima ribu rupiah. Untuk bertahan hidup. Untuk makan. Untuk keluarga. Abah memiliki dua anak. Satu di antaranya masih duduk di bangku SMA. Kebutuhan terus berjalan, sementara tenaga Abah semakin menua.
Beliau pernah mengalami kecelakaan saat berjualan hingga kakinya patah. Karena tak sanggup membayar operasi, Abah hanya berobat ke tukang urut. Ia harus berhenti bekerja selama 7 bulan. Namun setelah sedikit membaik, Abah kembali berdiri. Kembali ke jalan. Kembali menahan lelah.
Pernah juga ia pulang tanpa membawa uang sepeser pun. Jika itu terjadi, terpaksa ia berutang dulu ke warung agar keluarganya tetap bisa makan.
Ketika ditanya kenapa masih terus berjualan seperti ini, beliau hanya menjawab pelan,
"Tos janten tugas bapak, kangge ekonomi keluarga. Upami hente bapak, bade saha deui?"
(Sudah jadi tugas bapak untuk ekonomi keluarga. Kalau bukan bapak, siapa lagi?)
Kadang orang-orang lewat begitu saja. Seolah Abah tak terlihat. Padahal di balik mainan sederhana itu, ada seorang ayah yang sedang berjuang.
Kini harapan Abah sederhana. Ia ingin tetap sehat bersama keluarganya. Ia ingin membuka usaha kecil seperti baso atau bubur agar tidak lagi harus berdiri di pinggir jalan hingga larut malam.
Teman-teman, Bagi kita, mungkin 10 ribu atau 20 ribu hanya uang kecil. Tapi bagi Abah, itu bisa menjadi harapan baru. Bisa menjadi langkah menuju usaha yang lebih layak. Bisa menjadi alasan untuk tidak lagi bertaruh nyawa di jalanan.
Mari bersama kita ringankan beban Abah Jajang Eloy. Sedikit dari kita, sangat berarti untuk beliau dan keluarganya.
Karena kadang, yang dibutuhkan bukan belas kasihan melainkan kepedulian.
Sobat Berdampak! Mari wujudkan Ramadan yang penuh dengan kebaikan melalui campaign dan program Semua Berhak Dirayakan. Kalian dapat berpartisipasi dengan menyebarkan campaign ini dan berdonasi dengan cara:

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakan page Campaign Utama dan memilki turunan page Fundraiser sebagai medium penyebaran informasi dan penggalangan dana untuk para penerima manfaat.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.