Di usia 70 tahun, saat sebagian orang menikmati masa tua bersama anak cucu, Abah Naca justru masih memanggul bantal guling menyusuri jalanan sejauh 20–25 km setiap hari. Sejak tahun 1995, beliau menggantungkan hidup dari berjualan. Dulu di Jakarta, kini di Subang karena pasar semakin sepi.

Penghasilannya? Hanya sekitar Rp20.000 per hari. Sementara kebutuhan hidup bersama istrinya mencapai Rp1.200.000 per bulan.
Abah tetap berjalan dari pagi hingga sore, meski tubuhnya sering pusing karena kekurangan darah dan kakinya sakit setiap melangkah. Pernah suatu waktu, modal Rp400.000 yang ia kumpulkan dengan susah payah dipalak orang. Tapi Abah tak berhenti. Esoknya, beliau tetap berjalan lagi, membawa dagangan, membawa harapan.

Tiga orang anaknya tinggal jauh di luar kota. Jarang sekali bertemu. Kini, hanya Abah dan istrinya yang saling menjaga di usia senja. Tak ada yang merawat secara khusus. Tak ada penghasilan lain. Hanya semangat yang tak pernah padam.

Abah Naca tidak meminta kemewahan.
Beliau hanya ingin tambahan modal usaha agar tak perlu berjalan sejauh itu setiap hari. Mungkin bisa membuka lapak kecil lebih dekat dari rumah. Agar kakinya tak semakin rusak. Agar tak pingsan di jalan saat jualan.

Sahabat, bayangkan jika di usia 70 tahun kita masih harus berjalan puluhan kilometer demi Rp20.000…
Bayangkan jika tubuh sudah lemah, tapi hidup tak memberi pilihan untuk berhenti.
Mari kita ringankan langkah Abah Naca.
Sedikit bantuan dari kita bisa menjadi modal besar untuk membuatnya bertahan tanpa harus mempertaruhkan kesehatannya setiap hari.
Yuk, bantu Abah Naca dengan berdonasi sekarang.
Berapa pun yang kita beri, sangat berarti untuk modal usaha dan menjaga kesehatannya.
Klik donasi sekarang.
Jangan biarkan Abah berjalan sendirian di usia senja.