Setiap pagi, Abah Yusuf bangun dengan tubuh yang tak lagi sekuat dulu. Benjolan tumor di lehernya semakin membesar, menekan saluran napasnya, membuat setiap tarikan udara terasa berat. Rasa sakit itu tak hanya hadir saat ia berjalan, tapi juga saat ia mencoba beristirahat. Malam-malamnya panjang, dipenuhi nyeri yang tak kunjung reda.

Namun sakit tak membuat Abah Yusuf berhenti.
Dengan tubuh yang semakin rapuh, ia tetap memanggul bibit tanaman dan berkeliling menjajakannya. Langkahnya pelan, napasnya sesak, tapi ia terus berjalan. Bukan untuk dirinya sendiri, melainkan demi keluarga yang menggantungkan harapan padanya.

Sering kali bibit yang ia jual ditawar dengan harga sangat rendah. Hasilnya hanya cukup untuk makan hari itu. Untuk berobat? Jangankan operasi atau pemeriksaan rutin, menyisihkan sedikit saja hampir mustahil. Abah Yusuf memilih menahan sakitnya sendiri, menyembunyikannya di balik senyum yang tak pernah ia lepaskan di depan orang lain.

Di malam hari, ketika semua orang terlelap, Abah Yusuf masih terjaga. Menahan nyeri. Menahan sesak. Menahan air mata yang tak pernah ia tunjukkan. Ia tak ingin keluarganya merasa sedih atau terbebani oleh kondisinya. Ia memilih diam, dan terus berjuang.

Padahal tumor itu semakin hari semakin membesar.
Abah Yusuf tidak meminta hidup mewah. Ia hanya ingin sembuh. Ia ingin bisa bernapas tanpa rasa sakit. Ia ingin melihat anak-anaknya tumbuh tanpa harus menyaksikan ayahnya terus menderita.
Hari ini, kita bisa menjadi harapan yang selama ini ia tunggu.
Uluran tangan dan doa dari kita dapat membantu Abah Yusuf mendapatkan pengobatan yang layak, sebelum semuanya terlambat.
Mari bersama ringankan langkah Abah Yusuf. Karena di balik senyumnya, ada perjuangan dan rasa sakit yang tak sanggup lagi ia tanggung sendiri.