Ramadhan tahun ini terasa sangat berbeda bagi para korban banjir bandang di Aceh dan Sumatera. Padahal, hanya tinggal satu bulan lagi kita akan memasuki bulan suci yang penuh berkah. Namun hingga hari ini, dampak banjir bandang yang terjadi beberapa bulan lalu masih begitu terasa.
Material sisa banjir masih berserakan. Lumpur tebal masih mengubur pemukiman warga. Akses makanan, air bersih, hingga jaringan komunikasi sangat terbatas. Banyak keluarga terpaksa mengungsi dan meninggalkan rumah yang pernah menjadi tempat pulang.
Di tengah pelaksanaan ibadah puasa Ramadhan, para pengungsi harus bertahan di tempat tinggal sementara dengan fasilitas yang minim dan Kondisi yang tidak pasti. Untuk sekadar memenuhi kebutuhan makan sahur dan berbuka puasa, tentu akan menjadi perjuangan tersendiri. Sehingga saat Ramadhan tiba, ujian itu akan terasa semakin berat.
Waktu berbuka dan sahur yang seharusnya menjadi momen kebersamaan dan ketenangan, justru dijalani dengan keterbatasan. Tak jarang, para pengungsi hanya mengandalkan makanan seadanya agar tetap bisa menjalankan ibadah puasa.
Bukan hanya korban banjir bandang Aceh–Sumatera yang kehilangan segalanya. Bagi para dhuafa ditempat lain pun, dalam memenuhi kebutuhan berbuka puasa akan menjadi hal yang sulit. Seperti yang dialami Abah Maman. Abah Maman adalah seorang kakek berusia 76 tahun.
Di usia yang sangat renta, ia masih harus bekerja sebagai pemulung. Setiap hari Abah berjalan hampir 4 kilometer, mendorong gerobak tuanya sejak pukul 7 pagi hingga 7 malam. Penghasilannya sangat kecil. Dalam 3–4 hari, Abah hanya mendapatkan sekitar Rp20.000–Rp30.000, itu pun harus menunggu rongsokan terkumpul. Harga rongsok yang ia jual hanya Rp1.000 per kilo jika belum dibersihkan, dan Rp1.500 per kilo jika sudah dibersihkan.

Panas terik dan hujan deras tak pernah menghentikan langkahnya. Padahal tubuhnya sudah lemah dan penglihatannya sering berkunang-kunang. Namun di tengah kelelahan itu, Abah selalu membawa mushaf Al-Qur’an yang lusuh dan secarik kertas berisi ayat-ayat Al-Qur’an. Setiap kali berhenti beristirahat, Abah membacanya dengan penuh khusyuk. Tak jarang, ia tertidur karena terlalu lama membaca atau muroja’ah hafalannya.
Selain Abah Maman, ada juga Abah Emed, seorang kakek berusia 74 tahun. Tenaganya kini semakin berkurang. Kakinya sering sakit, hingga sesekali ia harus berhenti, duduk, dan memegang kakinya untuk menahan rasa nyeri.
Meski berjalan tertatih, tubuhnya bongkok dan renta, Abah Emed tetap berusaha memenuhi kebutuhan hidup. Dengan membawa beberapa ayakan, ia berkeliling kampung menjajakan dagangannya. “Abah mah kalau lapar, paling diganjel makan pisang. Kalau belum ada yang laku, cukup minum air putih saja.” Ungkap Abah Emed dengan lirih
Sahabat Kebaikan bagi mereka, seporsi makanan sahur dan berbuka bukan hanya tentang mengisi perut. Itu adalah sumber kekuatan, penghibur hati, dan harapan agar tetap mampu bertahan dan menjalani hari di tengah keterbatasan. Melalui Program Warteg keliling untuk Buka Puasa & Sahur bagi Korban Bencana Banjir Bandang dan Dhuafa, kami mengajak Sahabat Kebaikan semua untuk Ikut dan peduli membantu Mereka melalui Program ini.
Tentunya Donasi yang terkumpul akan disalurkan dalam bentuk paket makanan sahur dan berbuka puasa yang layak dan bergizi, untuk para pengungsi di lokasi terdampak serta dhuafa di wilayah lainnya.

Mari bersama menjadikan Ramadhan ini sebagai bulan berbagi dan menumbuhkan harapan. Dari setiap hidangan yang kita kirimkan, terselip doa dan kepedulian agar saudara-saudara kita baik yang berada di Aceh, Sumatera ataupun di tempat lain agar tetap kuat, tabah, dan merasakan bahwa mereka tidak sendiri menghadapi ujian ini.
Yuk, Sahabat Kebaikan, sisihkan sebagian rezeki untuk berbagi sahur dan berbuka Karena bagi mereka bantuan kecil dari kita adalah harapan besar untuk tetap bertahan menjalani Ramadhan.