Bu Nurjanah telah setahun berjuang melawan tumor otak. Setelah menjalani operasi, kondisinya justru semakin memburuk muncul benjolan baru, kemampuan bicara dan ingat menurun, sering kebingungan, hingga merasakan sakit kepala hebat yang membuatnya menangis menahan rasa. Kini, ia membutuhkan pengobatan lanjutan, namun terhenti karena keterbatasan biaya.
Anak bungsunya, Syahrul (3 tahun), juga mengalami ujian berat sejak lahir. Terdiagnosa epilepsi, ia pernah mengalami kejang hingga lima kali sehari dengan durasi hingga satu jam. Meski sempat menunjukkan perkembangan, pengobatannya terhenti karena kondisi ibunya yang semakin kritis. Hingga kini Syahrul belum bisa berjalan, belum bisa berbicara, dan masih terbaring seperti bayi, membutuhkan susu dan pampers setiap hari.
Di tengah kondisi ini, Pak Wahyudin berjuang seorang diri merawat istri dan kedua anaknya. Ia terpaksa berhenti bekerja dan menjual motor satu-satunya untuk memenuhi kebutuhan harian serta biaya berobat. Rumah yang mereka tinggali pun sudah rusak dan bocor, menambah beban kehidupan yang mereka jalani.
Meski demikian, Pak Wahyudin tetap tegar. Ia rela menahan lapar demi memastikan anak dan istrinya makan. Dengan segala keterbatasan, ia terus berharap bisa kembali bekerja dari rumah dan tetap merawat keluarganya, serta melihat anak-anaknya bisa bersekolah setinggi mungkin.
Mari bersama ulurkan tangan, ringankan beban keluarga ini, dan bantu mereka mendapatkan pengobatan serta kehidupan yang lebih layak.