“Walau Salman terlihat tidak sempurna seperti anak-anak yang lain, namun saya sangat menyayanginya. Salman adalah anugerah dan titipan yang luar biasa dari Allah yang harus saya rawat dan jaga dengan sepenuh hati” Ujar Bu Rina
Hati ibu mana yang tidak sedih melihat bayi yang dinantikan bertahun-tahun lamanya harus terlahir dengan penyakit langka Sindrom Apert Sindaktili.
Salman (3,5 tahun) memiliki kondisi istimewa mengalami kelainan dari ujung kepala hingga kaki, dengan kondisi kepala besar, mata yang besar, mulut tanpa langit-langit dan jari-jari tangan serta jari-jari kaki yang saling menempel. Kondisi tulang tengkorak bergabung terlalu dini, sehingga mempengaruhi bentuk kepala dan wajahnya.
Sungguh berat dan betapa sakit hidup yang harus dijalani Salman 3,5 tahun ini. Salman sudah menjalani operasi langit-langit mulut dan operasi pemisahan jari-jari kedua tangannya. Tindakan operasi berikutnya harus segera dilakukan untuk operasi pertama pemisahan jari-jari kedua kakinya dan operasi kedua untuk pemisahan jari-jari kedua tangannya.
Namun sayangnya, belum selesai pengobatan Salman, dokterpun mendiagnosa adanya penyakit lainnya, seperti TB paru, epilepsi dan gangguan pendengaran. Sehingga operasi selanjutnya belum bisa dilakukan karena harus dilakukan pengobatan TB paru terlebih dahulu.
"Saat ini Salman harus berobat kerumah sakit sebulan 4x, untuk ongkos saja kadang kami pinjam ke orang, belum lagi kami juga harus memikirkan untuk beli alat bantu dengar yang harganya puluhan juta. Kata dokter sebelum usia 4 tahun Salman harus pakai alat bantu dengar, kalau gak bakal tuli permanen" Ujar Bu Rina
Salman juga harus menerima keadaan jika orang tuanya saat ini sedang kesulitan. Sang ayah, Cecep hanya bekerja sebagai buruh pandai besi pembuat golok dengan penghasilan pas-pasan. Sedangkan Bu Rina sebagai guru ngaji anak-anak dikampungnya.
"Saya ngajar ngaji ikhlas tidak mengharapkan imbalan, meskipun ada saja orang tua santri yang memberi. Saya berharap dengan berjuang dijalan Allah, kesulitan kami Allah mudahkan, terutama untuk pengobatan Salman" Ujar Bu Rina
"Seringkali ketika saya ngajar ngaji bawa Salman ke madrasah, saya sedih liat anak-anak seusianya bisa mengaji dan bermain dengan teman-temannya" Tambahnya.
Orang tua Salman tidak tau lagi harus mencari biaya kemana agar anaknya bisa terus menjalani pengobatan hingga sembuh. Namun ditengah kondisi ekonomi yang serba kekurangan ini, Bu Rina dan suami tidak pernah mengeluh. Mereka tetap membawa Salman berobat, meskipun sering kali menjual harta bendanya, bahkan berhutang demi sang anak bisa berobat.
"Sering kalau kurang ongkos saya jalan kaki puluhan kilo sambil gendong Salman” Tambah Bu Rina
Harapannya selain Salman bisa terus berobat, Bu Rina pun ingin sekali mempunyai usaha kecil2an dirumahnya agar bisa membantu biaya berobat Salman dan iapun tak lupa ingin sekali memenuhi kebutuhan madrasahnya dimana ia berkhidmat selama ini, agar para santrinya bisa belajar dengan nyaman.
Sahabat Kebaikan, yuk temani perjuangan orang tua Salman dan bantu wujudkan harapannya dengan cara:
