Muhammad Abidzar Potutu baru berusia 2 minggu. Ia bahkan belum sempat merasakan hangatnya dunia, belum tahu apa itu tawa, namun tubuh kecilnya sudah dipaksa menanggung penderitaan yang begitu berat. Sejak lahir, orangtuanya harus menerima satu kenyataan pahit: Abidzar tidak memiliki lubang anus (atresia ani).
Artinya, kotoran tidak bisa keluar dari tubuhnya secara normal. Jika tidak segera ditangani, perutnya akan membengkak, infeksi bisa terjadi, dan nyawanya terancam.
Pada saat usianya 3 hari, Abidzar harus menjalani operasi darurat. Dokter membuat lubang pembuangan sementara di perutnya, tempat kotoran keluar melalui kantong plastik kolostomi.
Sejak saat itu, setiap hari adalah rasa sakit. Plastik kolostomi yang menempel di perut mungilnya harus diganti setiap hari.. Setiap penggantian membuat Abidzar menangis kesakitan. Ia sering rewel, sulit tidur, dan tampak tak nyaman bahkan saat terlelap.
Kemalangan tak berhenti sampai di situ, dokter menyampaikan satu hal yang sangat genting. Bahwa lubang pembuangan sementara ini hanya bisa bertahan maksimal 3 bulan. Setelah itu, Abidzar HARUS menjalani operasi lanjutan untuk pembuatan lubang anus permanen. Jika tidak dilakukan, perut Abidzar bisa membengkak dan membahayakan nyawanya.
Masalahnya, operasi lanjutan tidak bisa dilakukan di kota tempat ia menetap. Abidzar harus dirujuk ke kota lain atau Jakartaâdan biayanya sangat besar.
Abidzar lahir dari keluarga sederhana. Ibunya adalah ibu rumah tangga. Ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan, dengan penghasilan tidak menentu. pemasukannya hanya ada ketika ada yang memakai jasanya.
Sementara itu, setiap hari mereka harus membeli kantong kolostomi (± Rp30.000 per hari), kasa, cairan steril, dan perlengkapan medis lainnya. Belum termasuk biaya transport, kontrol rumah sakit, dan rujukan keluar daerah.
BPJS memang aktif namun tidak semua obat, alat, dan tindakan medis ditanggung. Di satu sisi, Abidzar terus menangis menahan sakit. Di sisi lain, orang tuanya hanya bisa saling menatapâcemas, takut, dan bingung memikirkan biaya pengobatan anak pertama mereka.
Waktu Abidzar sangat terbatas. Setiap hari yang berlalu mendekatkannya pada batas 3 bulan itu.
Hari ini, Abidzar tidak butuh belas kasihan: Ia butuh kesempatan untuk hidup normal, ia butuh pertolongan kita, sekarang, bukan nanti. Mari kita ringankan beban orang tua Abidzar.
Kalian dapat berpartisipasi dalam campaign Aksi Semua Berhak Sehat dengan menyebarkan campaign ini dan berdonasi dengan cara:

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakan page Campaign Utama dan memilki turunan page Fundraiser sebagai medium penyebaran informasi dan penggalangan dana untuk para penerima manfaat.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.
*Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memberikan Paket Hadiah Sembako, Bantuan Modal Usaha Penerima Manfaat, dan Bantuan Lainnya kepada para penerima manfaat yang membutuhkan. Selain itu hasil donasi juga akan disalurkan untuk penerima manfaat lainnya berdasarkan analisa kebutuhan pihak Yayasan.