Rumah sederhana berdinding kayu milik Farlan dan Rahayu, pasangan Tunarungu di Gorontalo, kini hanya tinggal abu. Rumah itu berdiri seadanya di atas rumah kakak angkatnya namun di sanalah mereka membangun kehidupan, membesarkan anak, dan saling menguatkan.
Bagi Farlan, rumah itu bukan sekadar tempat berlindung. Rumah kecil itu adalah ruang aman bagi komunitas Tuli di Gorontalo. Tempat berdiskusi, berbagi cerita, dan saling menguatkan. Sebab Farlan adalah Ketua Gerakan untuk Kesejahteraan Tuli Indonesia (GERKATIN) Gorontalo.
Saat api mulai melahap rumah, Farlan dan Rahayu tak menyadarinya. Mereka tak bisa mendengar teriakan warga sekitar. Hingga kakaknya mendobrak pintu dan asap pekat memenuhi ruangan, barulah mereka sadar. Waktu yang tersisa hanya cukup untuk menyelamatkan nyawa. Tak satu pun barang, harta, atau dokumen penting yang sempat dibawa keluar. Semua habis tak bersisa.
Kini, keluarga kecil ini terpisah. Istri dan anak-anak Farlan menumpang di rumah teman, sementara Farlan harus berpindah-pindah kos demi berteduh. Kehilangan rumah berarti kehilangan tempat pulang dan kehilangan ruang berkumpul bagi komunitas Tuli di sana.
Sehari-hari, Farlan dan istrinya bergantian menjalankan Kedai Tuli bersama rekan-rekan Tuli lainnya. Penghasilan mereka minim dan tak menentu, namun semangat untuk bangkit tak pernah padam. Di tengah keterbatasan, mereka tetap optimis dan saling menguatkan.
Hari ini, Farlan dan keluarganya membutuhkan uluran tangan kita. Dukungan untuk hunian tetap dan modal usaha bukan sekadar bantuan materi melainkan jembatan untuk menyatukan kembali keluarga yang terpisah, memulihkan kehidupan mereka, dan memastikan Farlan bisa terus membersamai serta memperjuangkan hak-hak komunitas Tuli di Gorontalo.
Mari bantu Farlan dan Rahayu membangun kembali rumah, harapan, dan masa depan mereka.
Sekecil apa pun bantuanmu, berarti besar bagi mereka.
