“Kadang suka kepikiran, kangen sama yang dulu… mau sedih tapi nggak bisa…” Ungkap Aisyah (10 tahun), anak kedua dari Bu Dwi.
Sudah lebih dari 5 bulan pasca operasi otak, kondisi Bu Dwi belum juga membaik. Hampir seluruh tubuhnya mengalami kelumpuhan, kecuali tangan kiri yang bergerak tanpa kesadaran.
Tak heran jika Anisa merindukan sosok ibunya yang dulu. Ibu yang ceria, yang mengantar-jemput sekolah, dan yang selalu menemani belajar setiap hari.

Kini, Anisa harus menerima kenyataan pahit. Ibunya hanya bisa terbaring, tidak bisa berbicara, dengan berbagai selang medis yang menempel di tubuhnya.
Selang di hidung untuk makanan dan minuman, selang di kemaluan untuk pembuangan urin, serta lubang di tenggorokan agar Bu Dwi bisa bernapas. Belum lagi luka menganga di tulang ekor yang membuat Bu Dwi tidak bisa duduk dan kedua kakinya tak dapat digerakkan.
Semua ini bermula sekitar satu tahun lalu. Bu Dwi sering merasakan panas dari pinggang hingga kepala. Hingga suatu hari, ia tiba-tiba tak sadarkan diri dan dilarikan ke IGD rumah sakit. Dokter kemudian mendiagnosis Bu Dwi menderita Tuberculous Meningitis (A17.0).
Tuberculous Meningitis, adalah infeksi serius pada selaput otak yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini sangat berbahaya dan bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan baik. Pengobatannya pun panjang, membutuhkan antibiotik selama 9–12 bulan.

Akibat penyakit tersebut, Bu Dwi harus menjalani operasi otak yang berdampak pada rusaknya fungsi saraf tubuhnya. Ia juga harus melubangi tenggorokanya untuk membantu pernapasan pada mulutnya.
Meski dahaknya sering menggumpal pada lubang tersebut sehingga harus disedot 4–5 kali sehari menggunakan alat khusus yang disewa keluarga dengan biaya Rp350.000 per bulan. Atau tak jarang, dahaknya itu sampai mengering di bibir Bu Dwi. Dan Aisyah-lah yang dengan sabar selalu membersihkan bibir ibunya setiap hari.
Sepulang sekolah, Anisa selalu duduk menjaga dan menemani di samping ibunya disaat Ayahnya, Pak Eko, bekerja sebagai OB/Cleaning Service di sebuah perusahaan telekomunikasi dengan sistem kontrak 6 bulan sekali.
Aisyah tak pernah bosan. Sambil Ia memegang tangan ibunya, mengajak bicara, mendoakan, bahkan memperbaiki posisi selang di hidung Bu Dwi.
“Bu… Ibu cepat sembuh ya. Aku kangen Ibu sembuh, terus masak ya…”. Bisik Aisyah pelan di telinga ibunya.
Di balik senyum kecil Aisyah, ada perjuangan besar Pak Eko. Setiap hari ia harus memikirkan biaya pengobatan di luar BPJS seperti Pampers , Susu khusus, Vitamin dan yang paling mahal bahkan membuat Pak Eko kebingungan yakni untuk Suntikan wajib 3 kali, dengan harga Rp16.800.000 per suntik, belum lagi Sewa kasur medis serta yang tidak boleh dilewatkan untuk Perawatan sekaligus pembersihan luka tulang ekor, penggantian selang kateter dan selang hidung setiap 3 hari sekali oleh perawat dengan biaya Rp200.000–300.000 per kunjungan.
Penghasilan Pak Eko sebagai cleaning service kontrak tentu tidak sebanding dengan besarnya biaya tersebut. Ia mulai merasa kewalahan dan putus asa, meski di hatinya masih ada harapan besar agar istrinya bisa sembuh.

Bu Dwi memiliki dua orang anak. Selain Anisa (10 tahun, kelas 4 SD), ada anak pertamanya Arrifah (20 tahun) yang sedang kuliah di salah satu PTN di Bogor dengan beasiswa penuh. Setiap hari Arrifah selalu melakukan video call, memantau kondisi ibunya dan tak henti-hentinya mendoakan kesembuhan.
Sahabat kebaikan, uluran tangan Anda sangat berarti untuk membantu biaya pengobatan dan perawatan Bu Dwi agar tetap bisa berjalan. Sedikit dari kita, besar artinya bagi Anisa dan keluarganya. Mari bersama-sama menjadi bagian dari harapan dan kesembuhan Bu Dwi.
Disclaimer: Dana yang terkumpul akan digunakan untuk pemenuhan penunjang pengobatan Bu Dwi, pemenuhan kebutuhan bulanan nya, Biaya Oprasional pengobatan Bu Dwi, dan jika terdapat kelebihan dana akan digunakan untuk membantu para penerima manfaat lainnya serta Program-program lain nya yang berada dibawah naungan Yayasan Ruang Harsa.