Abah Nanah Masnah (53 tahun) adalah seorang penjual sapu keliling yang setiap hari berjuang sendiri untuk bertahan hidup. Sejak subuh hingga menjelang magrib, Abah berjalan menyusuri kawasan Margahayu dan Ciwastra sambil memanggul sapu dagangannya, berharap ada yang membeli. Sapu-sapu tersebut ia jual dengan harga sekitar Rp25.000–Rp30.000 per buah, namun hasil penjualannya sama sekali tidak menentu. Dalam sehari, Abah terkadang hanya mendapatkan sekitar Rp50.000, itu pun tidak setiap hari. Penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan paling dasar: makan dan membayar kontrakan tempat tinggalnya yang sederhana.

Abah berasal dari Kuningan, Cirebon. Ia sebenarnya memiliki rumah di kampung halamannya, namun rumah tersebut kini kosong dan tidak ditempati siapa pun. Dahulu, sekitar tahun 1982, Abah bekerja sebagai tukang tembok atau kuli bangunan di Kuningan.

Namun seiring bertambahnya usia dan semakin jarangnya panggilan kerja, Abah memutuskan merantau ke Bandung demi mencari penghidupan. Sebelum berjualan sapu, Abah sempat mencoba berjualan korek gas, tetapi dagangannya kurang laku. Akhirnya, dengan modal hasil menabung sendiri, Abah beralih menjual sapu keliling dan telah menjalaninya kurang lebih selama satu tahun terakhir.

Dalam kesehariannya, Abah hidup sendiri setelah sang istri meninggal dunia sekitar 10 tahun lalu. Abah memiliki dua orang anak yang keduanya telah menikah. Anak kedua sesekali membantu dengan memberikan uang sekitar Rp200.000 per bulan, namun kini bantuan tersebut semakin jarang karena anaknya baru saja melahirkan anak kedua. Anak pertamanya hampir tidak pernah memberi bantuan dan juga jarang menjenguk Abah.

Meski demikian, Abah tetap berusaha bertahan tanpa banyak mengeluh. Ia memiliki sebuah ponsel sederhana pemberian anaknya, yang digunakan untuk berkomunikasi dan menerima kiriman uang jika ada.
Kondisi kesehatan Abah sangat memprihatinkan. Abah menderita asma sejak dua tahun terakhir dan harus rutin minum obat serta kontrol ke Rumah Sakit Al-Islam dengan bantuan BPJS. Saat berjualan, Abah sering merasakan sesak napas sehingga tidak selalu kuat berjualan hingga malam.
Bahkan pada malam hari, Abah kerap kesulitan tidur karena sesaknya, hingga pernah tertidur di jalan. Penglihatannya mulai buram, kakinya sering sakit, dan Abah pernah terjatuh saat berjualan karena fisiknya sudah tidak sekuat dulu.

Dalam perjalanannya, Abah juga pernah mengalami penipuan hingga kehilangan uang Rp150.000, dipalak oleh oknum tukang parkir, dihina karena dianggap hanya mencari belas kasihan, bahkan pernah terserempet mobil hingga mengalami luka ringan. Dengan biaya kontrakan Rp400.000 per bulan yang sempat menunggak dua bulan, serta kondisi makan yang sering tidak menentu bahkan kadang hanya berpuasa dan minum air jika tak ada penghasilan Abah Nanah Masnah benar-benar membutuhkan uluran tangan agar bisa menjalani hidup dengan lebih layak dan manusiawi.
Kalian dapat berdonasi dengan cara :
Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakan bagian dari program “Semua Berhak Nyaman”
*Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memberikan Paket Sembako, Bantuan Modal Usaha Penerima Manfaat, dan Bantuan Lainnya kepada para penerima manfaat yang membutuhkan. Selain itu hasil donasi juga akan disalurkan untuk penerima manfaat lainnya berdasarkan analisa kebutuhan pihak Yayasan.