Di balik deretan nisan dan sunyinya tanah pemakaman umum berdirilah sebuah rumah sederhana yang menjadi saksi hidup perjuangan dua lansia renta, Abah Ukar (85 tahun) dan istrinya, Emak Aminah (70 tahun).

Mereka tinggal Rumah kecil itu berdiri di atas tanah TPU atau tanah wakaf, dikelilingi makam-makam yang setiap hari menjadi pemandangan sekaligus bagian dari kehidupan mereka.
Di tempat yang bagi banyak orang terasa menyeramkan, justru di sanalah Abah dan Emak bertahan menjalani hari-hari tua mereka dengan penuh kesabaran.

Sejak tahun 1982, Abah Ukar telah mengabdikan hidupnya sebagai pengurus makam di salah satu TPU. Puluhan tahun lamanya Abah membersihkan area pemakaman, menyapu dedaunan, merapikan makam, dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Ironisnya, pengabdian panjang tersebut tidak pernah diiringi gaji atau honor tetap. Hingga hari ini, Abah masih melakukan pekerjaan yang sama, bukan karena upah, melainkan karena rasa tanggung jawab dan kebiasaan yang sudah melekat selama puluhan tahun.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Abah Ukar hanya mengandalkan pemberian sukarela dari para peziarah yang datang ke makam. Jumlahnya pun sangat kecil, sekitar lima hingga sepuluh ribu rupiah, dan itu tidak datang setiap hari. Bahkan, tak jarang selama dua hingga tiga hari tidak ada seorang pun yang berziarah, sehingga Abah dan Emak sama sekali tidak memiliki pemasukan. Demi menyambung hidup, Abah juga mengumpulkan bunga-bunga kamboja yang berjatuhan di area makam.

Bunga-bunga itu kemudian dijual ke pengepul dengan harga yang sangat murah, hanya sekitar lima ribu rupiah per kilogram, sebuah nilai yang jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Kini, Abah Ukar hanya hidup berdua dengan sang istri, Emak Aminah, yang kondisinya semakin memprihatinkan.

Emak mengalami sakit pada bagian mata sehingga penglihatannya sudah tidak normal dan membutuhkan perhatian serta pengobatan. Dalam keterbatasan ekonomi, makan sehari-hari pun sering kali tidak terpenuhi dengan layak. Ada kalanya mereka hanya makan nasi dengan garam, tanpa lauk, sekadar agar perut terisi.

Di usia senja, dengan tubuh yang semakin lemah dan kondisi kesehatan yang menurun, mereka tetap bertahan dalam diam, meski sering kali air mata menjadi satu-satunya pelampiasan kesedihan.
Uluran tangan kita dapat membantu meringankan langkah Abah Ukar agar perjuangannya di usia senja tak lagi dijalani sendirian.
