Di usia 107 tahun, seharusnya seseorang menikmati hari-hari tuanya dengan tenang, beristirahat bersama keluarga di rumah yang hangat dan aman. Tapi tidak bagi Nek Titi.
Setiap hari, sejak subuh buta, beliau masih harus berangkat jualan telur asin, gorengan, dan kacang-kacangan demi menyambung hidup. Berjualan ke Gedung Sate, membawa dagangan di tangan rapuhnya. Semua itu dilakukan bukan karena hobi... tapi karena terpaksa.
Sudah tiga tahun ia ditinggal sang suami untuk selamanya. Kini Nek Titi hidup bersama anak, menantu, dan cucunya, di sebuah gubuk. Meski sudah renta, Nek Titi tetap memilih berdagang setiap hari—karena beliau ingin bertahan hidup di sisa-sisa usianya.
Suatu malam, sepulang jualan, Nek Titi sempat terjatuh dari angkot hingga kepalanya robek dan harus dijahit. Tapi setelah pulih, beliau tetap kembali berjualan.
Dengan penghasilan yang sangat minim, semuanya langsung digunakan untuk modal esok hari. Tak ada tabungan, tak ada jaminan. Hanya semangat dan harapan agar bisa tenang beristirahat di usia senjanya.
Disclaimer : Informasi, opini dan foto yang ada di halaman galang
dana ini adalah milik dan tanggung jawab penggalang dana. Jika ada masalah/kecurigaan silakan
lapor kepada kami disini.
Assalamua'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hallo Sobat Berdampak!
Alhamdulillah kita telah melaksanakan program penyaluran Semua berhak Nyaman untuk Nek Titi seorang lansia 107 tahun dengan kondisi rentan dan bekerja sebagai penjual gorengan keliling dijalanan. Bantuan yang di berikan berupa santunan tunai dan kebutuhan bahan pokok.
Kami mewakili Nek Titi dan keluarga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Sobat Berdampak atas donasi dan dukungan yang telah diberikan.
Alhamdulillah, bantuan sudah diterima dan disambut dengan rasa syukur serta bahagia oleh Nek Titi sekeluarga.
Terima kasih atas kebaikan yang telah dibagikan.
Salam hangat,
Ayo Kita Peduli