Setiap hari, tepat pukul sembilan pagi, Nenek Watanda membawa bakul sayurnya menuju tepi jalan raya yang ramai kendaraan. Di sanalah ia menggelar dagangannya sayur-sayuran segar seperti bayam, kangkung, kentang, dan terong.
Nenek Watanda bukanlah perempuan muda lagi. Rambutnya memutih, kulitnya keriput, dan langkahnya pelan. Tapi semangatnya tak kalah dari pedagang muda. Ia duduk di bawah rimbun pepohonan dengan meja kecil dagangannya, tersenyum ramah pada siapa pun yang mampir, sambil menawar harga dengan suara lembut khas seorang nenek. Ia berjualan hingga siang hari, menunggu sinar matahari menguning dan jalanan mulai sepi. Setelah itu, Nenek kembali kerumah gubuk kecil yang sudah tidak layak jika terdapat dagangan sisa, ia akan membawanya pulang untuk hidangan makan malamnya.
Pada Saat berisitirahat nenek watanda terkadang hanya meminum sebotol Air Putih dan mengikat perutnya untuk menahan rasa lapar.
Nenek Watanda tinggal di sana. Gubuknya hanya berdinding triplek bekas dan beratapkan seng yang bocor jika hujan datang, nenek watanda tingal bersama anaknya dan cucunya yang masih sekolah, bagi Nenek Watanda itu sudah cukup. Itu adalah rumah, satu-satunya tempat untuk melepas lelah, Setiap kali hujan turun, Nenek Watanda hanya bisa menatap langit-langit yang basah dan merintik. Di hatinya selalu ada ketakutan apakah rumah kecil itu mampu bertahan sampai besok? Terkadang Nenek merenung sejenak apakah duit ia cukup untuk memperbaiki gubuk tempat ia tinggal ini, sambil berdoa ia berharap dagangan nya akan selalu laku
Kadang di malam hari, cucunya suka bercerita tentang pelajaran sekolah, tentang cita-cita yang ia gantungkan setinggi mungkin. Dan di situlah Nenek Watanda merasa hidupnya masih berarti.
Bahwa setiap ikatan sayur yang ia jual, setiap rupiah yang ia sisihkan semua itu bukan hanya soal bertahan hidup, tapi tentang memberi masa depan bagi generasi setelahnya.
Baginya, hidup memang sederhana, tapi cukup. Asalkan ia masih bisa berjualan, menyambung hidup, dan menyapa orang-orang yang lewat dengan senyum itu sudah membuat hatinya hangat, meski tubuhnya kedinginan di bawah seng bocor.