Di usia yang hampir seabad, ketika tubuh seharusnya beristirahat, Nek Amah justru masih harus berjalan tertatih setiap hari. Punggungnya bungkuk, langkahnya goyah, persendiannya nyeri. Namun hidup tak memberinya pilihan. Demi sesuap nasi, beliau menjaga makam, dibayar seikhlasnya, kadang hanya seribu-dua ribu, bahkan sering kali tak dibayar sama sekali.
Setiap pagi, Nek Amah menyapu pelataran makam dengan tangan gemetar. Tak ada gaji tetap, tak ada jaminan. Yang ada hanya tekad untuk bertahan hidup. Beliau merawat makam bukan karena kuat, tapi karena terpaksa. Karena jika berhenti bekerja, maka berhenti pula harapan untuk makan hari itu.
Ironisnya, Nek Amah pulang ke sebuah gubuk tua yang nyaris roboh. Dinding berlubang, atap bocor, lantai tanah yang basah saat hujan turun. Di malam hari, Nek Amah hanya meringkuk di atas tikar tipis, menahan dingin yang menusuk tulang. Tanpa kasur, tanpa selimut, tanpa siapa pun. Sendiri.
Namun di balik semua penderitaan itu, senyum Nek Amah tak pernah benar-benar hilang. Ada ketulusan, ada keikhlasan, ada kekuatan yang lahir dari kesederhanaan.
#OrangBaik, haruskah seorang nenek 95 tahun terus melawan lapar, dingin, dan sunyi seorang diri?
Mari kita hadir untuk Nek Amah.
Sedikit bantuan darimu bisa menjadi penghangat di malamnya, pengisi di piringnya, dan harapan di sisa usianya.
Bersama, kita bisa menghadirkan masa tua yang lebih layak untuk Nek Amah.