Setiap pagi, saat sebagian orang masih bersiap memulai hari, Pak Heri (47 tahun) sudah mendorong motornya menuju lapak kecilnya. Ia berjualan kopi seduh dari pagi hingga siang. Enam hari dalam seminggu. Hari Minggu pun tetap bekerja di tempat berbeda.
Bukan karena ingin memperkaya diri. Tapi karena kalau ia tidak berjualan hari itu, anaknya tidak bisa makan.
Sudah dua tahun Pak Heri berjualan kopi. Sebelumnya ia pernah menjadi tukang ojek. Bahkan dulu sempat bekerja di sebuah instansi pemerintah saat masih sehat. Namun hidup berubah sejak tahun 2015, ketika tubuhnya mulai menunjukkan gejala aneh.
Wajahnya terangkat sebelah. Gerakan tak terkendali muncul di kaki. Lalu menjalar ke perut, bahu, hingga hampir seluruh tubuhnya.
Pak Heri didiagnosis mengidap distonia dan epilepsi. Penyakit yang membuat tubuhnya terus bergerak tanpa bisa ia kendalikan. Ia mudah lelah. Untuk makan pun sering harus sambil tiduran karena jika duduk, tubuhnya terus bergerak dan terasa sangat capek. di tengah keterbatasannya itu, pak Heri berucap âAnggap saja hiburan,â katanya. Padahal di balik senyum itu, ada tubuh yang sakit dan hati seorang ayah yang hanya ingin anaknya bisa sekolah sampai kuliah.
Namun penyakit tidak membuat kebutuhan hidup berhenti. Istrinya pergi sejak 2017, meninggalkan Pak Heri dan dua anak perempuan. Anak pertama sudah bekerja, tapi penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan dirinya dan anaknya sendiri. Anak kedua masih duduk di kelas 2 SMP. Masih butuh buku. Masih butuh tas dan sepatu sekolah. Masih butuh uang jajan.

Dan semua itu bergantung pada Pak Heri. Dalam sehari, penghasilan kotor Pak Heri hanya berkisar Rp30.000 hingga Rp200.000. Itu pun jika ramai. Bersihnya? Jika hanya laku Rp30.000, yang tersisa untuknya mungkin hanya Rp10.000.
Ia pernah hanya membawa pulang Rp15.000. Bahkan pernah cuma Rp7.000. Pernah juga pulang dengan wajah tertunduk karena hujan membuat jualannya hanya laku dua gelas. Saat itu, ia tidak bisa memberi uang jajan pada anaknya.
Bayangkan, di tengah tubuh yang bergerak tak terkendali, ia tetap berdiri menyeduh kopi. Pernah kopinya tumpah saat hendak diberikan ke pembeli. Pernah motornya terguling hingga termosnya pecah. Pernah ditabrak mobil dari belakang saat berangkat jualanâdan pelakunya kabur begitu saja.
Ia juga pernah diusir saat berjualan. Dipalak. Ditipu hingga kehilangan barang dagangan. Bahkan masih ada pembeli yang berutang Rp55.000 dan belum membayar.
Di tengah semua itu, Pak Heri masih harus memikirkan utang sekitar Rp200.000 bekas kebutuhan makan, tunggakan BPJS, biaya obat yang kadang harus ditebus sendiri Rp100.000âRp150.000, dan modal belanja harian Rp30.000 untuk bisa tetap jualan.
anda bisa berpartisipasi dengan:
Kalian dapat berpartisipasi dalam gerakan ini dengan menyebarkan campaign dan berdonasi dengan cara:

*Page ini merupakan page Campaign Utama dan memilki turunan page Fundraiser sebagai medium penyebaran informasi dan penggalangan dana untuk para penerima manfaat.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.
*Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memberikan Paket Hadiah Sembako, Bantuan Modal Usaha Penerima Manfaat, dan Bantuan Lainnya kepada para penerima manfaat yang membutuhkan. Selain itu hasil donasi juga akan disalurkan untuk penerima manfaat lainnya berdasarkan analisa kebutuhan pihak Yayasan.

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com