Abah Awih (73) memegang satu ikat sutil dagangannya sambil menahan gemetar di tangannya. Penglihatannya sudah tinggal setengah karena mata kanan buta total dan yang kiri mulai buram. Namun begitu Ia tetap berdiri di pinggir jalan, berharap ada satu dua orang yang membeli dagangannya.
Dua puluh tahun ia keliling berjualan. Dulu ia masih kuat berdiri sampai malam. Sekarang ia hanya sanggup sampai sore. Asam urat membuat setiap langkah terasa seperti ditusuk. Ia pernah berjalan pulang sangat jauh karena tak ada satu pun pembeli. Kaki bengkak dan napas tersengal. Namun ia tetap memaksa pulang karena keluarganya menunggu.
Keuntungan yang ia dapat kecil. Sutil dan serok memberi untung Rp10.000 sampai Rp15.000. Satu ikat karung belanja hanya memberi Rp1000 sampai Rp5000. Jika sedang beruntung, ia membawa pulang Rp200.000 sampai Rp300.000. Banyak hari lain ia pulang tanpa uang sepeser pun.
Pendapatannya tidak selalu cukup untuk biaya perjalanan pulang ke rumahnya di luar kota. Ketika tidak cukup, ia tidur di rumah saudaranya yang sempit. Lantainya tanah. Dindingnya kayu. Ia tinggal di sana sampai ada uang untuk kembali melihat keluarganya. Yang ia pikirkan setiap malam tetap sama. Apakah istri dan cucu cucunya sudah makan hari itu?
Istrinya juga masih berjualan keliling. Penghasilannya sekitar Rp100.000 per hari sebelum dipotong setoran. Cucu mereka tiga orang. Masih sekolah dan membutuhkan biaya. Abah ingin mereka tetap belajar. Ia ingin istrinya berhenti berjualan agar tidak kelelahan. Namun kondisi keuangan tidak pernah cukup.
Pernah suatu hari Abah ditabrak mobil. Barang dagangannya jatuh dan badannya lebam. Penglihatannya yang lemah membuat ia tidak sempat menghindar. Pelakunya pergi begitu saja. Ia hanya bisa mengumpulkan kembali serok dan karung yang berserakan di jalan.
Kemalangan lainnya, Ia pernah kehilangan sebagian jari saat bekerja di kebun, pernah ditipu sebesar Rp100.000. Ia menghadapi semua itu dengan tubuh yang makin rapuh. Tangannya gemetar ketika minum sampai air tumpah dan kakinya nyeri setiap hari. Ia hanya mampu membeli obat murah untuk mengurangi sakit.
Di tengah kondisi itu, ada lagi beban lain. Anak-anaknya mempunyai utang Rp20.000.000 untuk memperbaiki rumah. Kini Abah ikut menanggungnya dengan penghasilan yang bahkan tidak menutup kebutuhan dasarnya.
Abah tidak meminta banyak. Ia hanya ingin keluarganya hidup lebih layak. Ia ingin cucunya tetap sekolah. Ia ingin istrinya berhenti keliling agar tidak harus merasakan sakit yang sama. Saat ini Abah menjalani hari dengan tenaga yang tersisa. Setiap rupiah yang ia dapat menentukan apakah ia bisa pulang, apakah ia bisa mengobati nyerinya, apakah keluarganya bisa makan.
Hai sobat berdampak, yuk sebarkan campaign ini dan berdonasi untuk membantu Abah Awih. Bantuan donasi akan disalurkan untuk paket pangan, modal usaha serta bantuan lainnya. Kalian dapat berdonasi dengan cara :
Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakan bagian dari program “Semua Berhak Nyaman”
*Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memberikan Paket Sembako, Bantuan Modal Usaha Penerima Manfaat, dan Bantuan Lainnya kepada para penerima manfaat yang membutuhkan. Selain itu hasil donasi juga akan disalurkan untuk penerima manfaat lainnya berdasarkan analisa kebutuhan pihak Yayasan.
Ke Rekening Bank Mandiri *********6067 a/n YAYASAN AYO BERDAMPAK BERDAYA
Rencana Penggunaan Dana Pencairan: Dana yang dicairkan akan digunakan untuk program penyaluran bantuan santunan tunai kepada Abah Awih.