Sejak suaminya meninggal, Mak Ucih menjadi satu-satunya penopang hidup keluarganya. Di usia 66 tahun, ia masih harus berkeliling menjual pisang, singkong, dan sayuran sambil menggendong beban berat.

Di rumah, menunggu anak bungsunya yang kini berusia 35 tahun namun tidak bisa berjalan dan berbicara secara normal. Anak yang membutuhkan perawatan seumur hidup.
Penghasilan Mak Ucih tak menentu. Kadang hanya tiga puluh ribu rupiah. Jika dagangan tak habis, mereka makan seadanya, bahkan hanya dengan garam.

Ia pernah ditipu, uangnya hilang, rumahnya bocor, tubuhnya sakit, namun satu hal tak pernah hilang: kasih seorang ibu.
Mak Ucih tidak pernah menyerah, tapi ia tidak seharusnya berjuang sendirian.

Hari ini, kita bisa menjadi alasan Mak Ucih sedikit lebih ringan melangkah.
Bantu Mak Ucih dan anaknya hidup lebih layak.