Bantu Juang Lansia 72th Jualan Daster Keliling
“Daster cantik-cantik neng, ayo dibeli daster neng…kalau dipakai neng pasti cantik sekali. Bantu larisin ya neng,” ucap Mbah saat menawarkan dagangannya yang digantung di tangan.
Di usia senjanya yang sudah 72 tahun, Mbah Muninggar tetap teguh melangkah. Sejak 27 tahun lalu, beliau mengais rezeki dengan berjualan daster keliling. Setiap hari, dengan langkah yang pelan namun penuh semangat, Mbah berjalan kaki sejauh kurang lebih 20 kilometer.

Di pundaknya tergantung beberapa daster sederhana, hasil dari titipan atau modal kecil yang bisa beliau kumpulkan. Mbah Muninggar biasa menawarkan dagangannya kepada siapa saja yang ia temui di jalan—entah orang yang sedang duduk, lewat, atau bahkan sekadar berhenti sebentar.
Kadang ada yang membeli, tetapi lebih sering hanya melihat tanpa niat memiliki. Tidak jarang pula, Mbah harus menelan pahitnya hinaan, seolah-olah apa yang beliau lakukan bukanlah pekerjaan yang layak. Padahal, yang diinginkan Mbah hanyalah sedikit rezeki untuk bisa makan sehari-hari dan menabung sedikit demi biaya berobat.

Hidup Mbah Muninggar memang tidak mudah. 3 tahun yang lalu, sang suami meninggal dunia, meninggalkan mbah dalam kesunyian dan perjuangan seorang diri. Sejak itu, Mbah benar-benar menjadi tulang punggung bagi dirinya sendiri, tanpa ada lagi tempat bersandar.
Namun cobaan tak berhenti di situ. Beberapa waktu lalu, Mbah Muninggar terjatuh hingga mengalami patah tulang panggul. Beliau harus menjalani operasi, dan kini kondisinya masih belum pulih sepenuhnya.
Setiap langkah yang ia ambil sering diiringi rasa nyeri tak bisa dipakai untuk duduk di bawah. Meski demikian, mbah tetap memaksakan diri untuk berjualan, karena ia tidak punya pilihan lain.
Biaya untuk pengobatan dan kebutuhan sehari-hari terus menghantui, sementara penghasilan dari jualan daster hampir tak seberapa. Mbah jualan daster seharga Rp 40 ribu, tapi ia hanya ambil untung Rp 5 ribu per bajunya.
“Sering gak laku juga neng, Orang-orang sekarang suka belanja online katanya lebih murah,”
Biasanya beliau hanya mampu membawa 20 baju setiap hari karena tak cukup modal. Daster yang terjual setiap hari juga hanya 1-2 helai saja — artinya Mbah hanya mendapatkan uang Rp 10 ribu per hari. Namun usahanya tak selalu berjalan mulus.
“Mbah pernah ketipu orang bayar pakai uang 100 ribu, Mbah kasih kembalian uang 60 ribu. Setelah pembeli tidak ada, Mbah cek uang tersebut ternyata uang palsu..” cerita Mbah sambil mengusap air mata.

Tetapi satu hal yang membuat banyak orang kagum adalah keteguhan hati Mbah Muninggar. Dalam keadaannya yang ringkih, beliau tetap sabar, tetap berusaha, dan tak pernah lelah untuk berdoa.
Dengan mata yang berkaca-kaca, mbah sering berkata: "Saya hanya ingin bisa makan seadanya, dan punya sedikit uang untuk berobat. Tidak lebih."
#OrangBaik mari bersama tergerak untuk membantu Mbah Muninggar supaya bisa menjalani hari-hari tuanya dengan lebih tenang dan tanpa harus menahan sakit.