Sejak kecil, Pak Engkos hidup dengan keterbatasan fisik. Kini di usia 44 tahun, ia masih harus berjuang setiap hari melawan kondisi tubuhnya dan juga kerasnya hidup.
Pak Engkos adalah penyandang disabilitas fisik. Ia kesulitan berjalan dan berbicara. Namun setiap hari, ia tetap berkeliling menjajakan lauk pauk demi mendapatkan penghasilan sekitar Rp30.000âRp50.000 per hari. Jumlah itu sering kali belum cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarganya.
Pak Engkos tinggal bersama kedua orang tuanya. Ibunya setiap hari berbelanja dan memasak untuk membantu Pak Engkos berjualan. Ayahnya, yang sudah tua dan semakin ringkih, masih harus bekerja sebagai buruh bangunan demi menafkahi istri dan anaknya yang menyandang disabilitas. Ketika pemasukan tak mencukupi, sang ibu terpaksa berutang ke warung hanya untuk membeli bahan jualan keesokan hari.
Berjualan bukan hal yang mudah bagi Pak Engkos. Dengan kondisi berjalan yang sulit dan tanpa alat bantu, ia pernah terjatuh saat berjualan di jalanan sempit. Ia bahkan tidak memiliki tongkat untuk menopang tubuhnya. Meski begitu, ia tidak pernah berhenti berusaha.
Tak jarang, pembeli mengutang dengan waktu pembayaran yang lama. Namun Pak Engkos tidak pernah menolak. Ia tetap memberi, meski tahu penghasilannya sendiri sangat terbatas. Ia lebih memilih kekurangan, daripada melihat orang lain kesusahan.
Sebagai anak pertama dari empat bersaudara, Pak Engkos sering merasa bersalah pada orang tuanya. Ia sadar, dirinya tidak bisa bekerja seperti adik-adiknya. Ia juga belum bisa membangun keluarga sendiri. Di luar sana, tidak semua orang bersikap ramah. Ada yang menghina keterbatasannya, bahkan menyuruhnya berhenti berjualan karena dianggap memalukan. Namun Pak Engkos memilih diam dan terus melangkahâseperlunya yang ia mampu.
Karena keterbatasan ekonomi dan minimnya akses pendidikan saat kecil, Pak Engkos tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Ia tidak bisa membaca dan menulis. Meski begitu, ia menyimpan mimpi yang sangat sederhana: suatu hari memiliki warung nasi kecil, agar ia tidak perlu lagi berjalan jauh berkeliling dengan tubuh yang kesakitan.
Hari ini, Pak Engkos masih berjualan dengan kaki yang tertatih, tanpa alat bantu, tanpa jaminan penghasilan, dan dengan orang tua yang semakin renta.
Donasi Anda bisa menjadi titik balik bagi Pak Engkosâ
membantu memenuhi kebutuhan hariannya, memberikan alat bantu jalan yang layak, dan mendekatkannya pada mimpi memiliki usaha kecil yang lebih manusiawi.
Kalian dapat berpartisipasi dalam gerakan ini dengan menyebarkan campaign dan berdonasi dengan cara:

*Page ini merupakan page Campaign Utama dan memilki turunan page Fundraiser sebagai medium penyebaran informasi dan penggalangan dana untuk para penerima manfaat.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.
*Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memberikan Paket Hadiah Sembako, Bantuan Modal Usaha Penerima Manfaat, dan Bantuan Lainnya kepada para penerima manfaat yang membutuhkan. Selain itu hasil donasi juga akan disalurkan untuk penerima manfaat lainnya berdasarkan analisa kebutuhan pihak Yayasan.

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com