Pada Senin, 27 Oktober 2025, hujan deras mengguyur Kecamatan Cisolok, Sukabumi. Akibat meluapnya Sungai Cisolok dan longsor di beberapa titik, terjadi banjir bandang yang merendam pemukiman warga.

Sekitar 500 KK (±1.500 jiwa) terdampak. Rumah, sekolah, dan fasilitas umum rusak, sementara banyak warga harus mengungsi ke tempat aman.
Wilayah terdampak mencakup Desa Cikahuripan, Karangpapak, Cisolok, Wangunsari, Cikelat, dan Sukarame.

Salah satu warga terdampak adalah Pak Odih (60 tahun), yang kehilangan rumahnya setelah banjir melanda. Sore itu sekitar pukul empat, Pak Odih (60 Tahun) sedang bekerja di sawah. Hujan turun deras, tapi ia tak menyangka akan datang air bah sebesar itu. Dalam sekejap, air deras menerjang seperti tsunami.

Sontak Pak Odih langsung memanjat pohon kelapa menyelamatkan diri. Dua jam lamanya ia berpegangan di sana, menggigil ketakutan, sambil terus memikirkan istri dan anak-anaknya di rumah.

“Ya Allah selamatkan istri dan anak-anaku dirumah”. Kata-kata itu terus diulangnya, berdoa agar keluarganya selamat.
Setelah air mulai surut, Pak Odih turun dan bergegas pulang, sambil menahan pegal dan letih akibat bertahan di pohon kelapa. Namun sesampainya di sana, ia hanya bisa terduduk lemas.

Rumah yang telah ia dirikan dengan jerih payah selama 13 tahun, kini runtuh. Dindingnya jebol, perabotan hanyut, dan kamar mandi hancur. Semua hasil kerja kerasnya hilang seketika dibawa banjir.
Lebih menyedihkan lagi, anak Pak Odih yang masih sekolah terpaksa berhenti sementara. Buku, seragam, dan perlengkapan sekolahnya ikut hanyut.

“Saya bingung kalau malam tidak bisa tidur karena kedinginan, apabila hujan atap bocor, kasian anak saya”. Ujar Bu Juherti (52 Tahun) istri dari Pak odih.
Setiap kali hujan turun, air menetes dari atap yang bocor. Tak ada tempat kering untuk beristirahat, bahkan untuk tidur pun harus berpindah-pindah mencari sudut yang tak basah.

Untuk ke toilet, mereka terpaksa ke kali. Untuk mandi dan minum, hanya mengandalkan air hujan yang ditampung dalam ember.

Selama ini Pak Odih mencari nafkah dari memulung rongsok, menjadi buruh tani, dan memijat warga sekitar yang membutuhkan. Semua ia lakukan agar keluarganya bisa bertahan.
Sudah beberapa hari mereka bertahan di rumah yang tidak ada dinding dan atap yang rusak, Beban tentunya semakin berat untuk Pak Odih untuk ditanggung sendiri.
Ia membutuhkan uluran tangan kita agar bisa memperbaiki rumahnya, membeli kembali kebutuhan sekolah anaknya, dan mendapatkan akses air bersih yang layak.
Sahabat kebaikan, mari bersama bantu Pak Odih dan keluarganya bangkit dari musibah. Setiap rupiah yang kamu sisihkan, menjadi harapan baru bagi keluarga kecil yang kini kehilangan tempat bernaung. Bantu dengan cara:

Tak hanya mendoakan dan berdonasi, kamu juga bisa membagikan halaman galang dana ini agar semakin banyak yang membantu.

Disclaimer : Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi segala kebutuhan Pak Odih yang terdampak banjir. Sebagian dana juga akan digunakan untuk mendukung implementasi program kemanusiaan dan penerima manfaat lainnya di bawah naungan Yayasan Global Sedekah Movement.