Setiap hari, seorang ayah dengan satu mata yang tidak lagi bisa melihat, serta kaki dan tangan yang mengecil akibat disabilitas sejak bayi, harus mengayuh sepeda kecilnya dari pagi hingga malam demi menjual tisu lima ribuan. Bukan karena ia kuat, bukan karena ia tidak lelah, tapi karena ia tidak punya pilihan lain.
Pak Verry sudah 10 tahun berjualan tisu. Dalam sehari, ia membawa sekitar 20 bungkus. Dari harga lima ribu rupiah per bungkus, keuntungan bersih yang ia dapat hanya Rp1.800. Jika semuanya terjual, penghasilannya berkisar antara Rp30.000 hingga Rp60.000 per hariâitu pun belum tentu selalu habis.
Dengan kondisi fisik yang terbatas, setiap kayuhan sepeda terasa dua kali lebih berat. Tangannya mudah kesemutan. Kakinya sering keram. Ia tidak menggunakan alat bantu berjalan. Jika terlalu lama mengayuh atau berdiri, rasa nyeri dan pegal menjadi teman yang tak terhindarkan. Namun perjuangan Pak Verry bukan hanya tentang dirinya.
Ia memiliki seorang anak yang sebentar lagi akan masuk SMP. Saat ini sang anak tinggal bersama ibunya, karena Pak Verry merasa khawatir tidak bisa memperhatikan anaknya dengan baik. Dari pagi hingga sore, bahkan terkadang malam, ia harus berjualan. Ia takut anaknya merasa sendirian jika tinggal bersamanya.
Sebagai ayah, keinginannya sederhana: bisa memberi uang bekal sekolah. Bisa memastikan anaknya berangkat sekolah tanpa rasa malu. Namun dengan penghasilan yang bahkan hanya cukup untuk kebutuhan dirinya sendiri dan membayar kontrakan Rp300.000 per bulan, harapan itu terasa begitu jauh.
Sebelum menjadi penjual tisu, Pak Verry pernah bekerja sebagai tukang parkir. Namun ketika lahan parkir tempatnya bekerja ditutup karena perbaikan, ia kehilangan sumber penghasilan. Sejak itu, berjualan tisu menjadi satu-satunya jalan yang ia tekuni selama satu dekade terakhir.
Ia harus berbagi tempat dengan penjual lain. Ada semacam âwilayahâ yang tidak boleh dilanggar. Jika sudah ada yang berjualan di satu titik, Pak Verry memilih mengalah. Ia takut menyinggung dan merasa tidak enak hati. Artinya, ia harus kembali berkeliling, mencari tempat lain, mengayuh lebih jauh lagi.
Padahal satu matanya mengalami kebutaan total akibat demam tinggi saat bayi. Hingga hari ini, ia belum pernah memeriksakan apakah masih ada kemungkinan untuk melihat kembali. Bukan karena tidak ingin tahuâtapi karena tidak ada biaya untuk sekadar memeriksakan diri.
Sejak kecil ia sudah berjuang. Saat bayi, karena kondisi kulitnya, ia bahkan harus tidur beralaskan daun agar tidak menempel ke lantai. Hidupnya memang sudah penuh perjuangan sejak awal.
Ia bermimpi memiliki usaha yang lebih layak. Ia ingin membuka warung kecil agar tidak perlu lagi berkeliling. Namun ia bingung soal lahan dan modal. Jika tidak memungkinkan membuka warung, ia berharap memiliki motor roda tiga agar tidak perlu terus-menerus mengayuh sepeda dalam kondisi fisik seperti sekarang. Menurutnya, harga motor roda tiga sekitar 10 juta rupiahâangka yang terasa mustahil untuk ia kumpulkan dari keuntungan Rp1.800 per bungkus tisu.
Sobat Berdampak, ini bukan sekadar tentang seorang penjual tisu. Ini tentang seorang ayah yang setiap hari menahan sakit demi masa depan anaknya. Tentang seorang pria dengan keterbatasan fisik yang tidak pernah berhenti berusaha.
Hai sahabat berdampak, yuk sebarkan campaign ini dan berdonasi untuk membantu Bapak Verry. Bantuan donasi akan disalurkan untuk paket pangan, modal usaha serta bantuan lainnya. Kalian dapat berdonasi dengan cara :
1. Klik âDonasi Sekarang;
2. Masukan nominal donasinya;
3. Pilih metode pembayaran;
4. Dapatkan laporan via email.
Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakan bagian dari program âSemua Berhak Nyamanâ
*Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memberikan Paket Sembako, Bantuan Modal Usaha Penerima Manfaat, dan Bantuan Lainnya kepada para penerima manfaat yang membutuhkan. Selain itu hasil donasi juga akan disalurkan untuk penerima manfaat lainnya berdasarkan analisa kebutuhan pihak Yayasan
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.