Setiap pagi, sejak pukul 6 hingga 9, seorang nenek berusia lanjut bernama Mak Sulastri berjuang memanggul sayuran dari satu rumah ke rumah lain. Dengan penghasilan hanya Rp30.000 per hari, Mak Sulastri menanggung hidup dirinya, anaknya yang sedang sakit stroke, serta cucu kecilnya yang kini tengah berjuang melawan kanker nasofaring.
Dari Rp30.000 yang ia dapatkan, Mak Sulastri hanya berani menyisihkan Rp10.000 untuk makan atau membeli sabun cuci. Sisa uangnya ia tabung sedikit demi sedikit untuk membantu biaya berobat cucunya di Bandung. Sering kali, ia tak makan seharian—namun tetap tersenyum, karena katanya, “asal cucu saya bisa sembuh, saya kuat menahan lapar.”
Tetangga-tetangga yang iba kadang membawakan lauk atau mengajaknya makan bersama. Namun, di balik senyumnya, tersimpan kepedihan yang begitu dalam: kelelahan, kekhawatiran, dan rasa bersalah karena tak mampu berbuat lebih untuk cucunya yang sakit.
Cucu Mak Sulastri, Raka (9 tahun), dulunya anak yang ceria dan suka bermain layang-layang. Kini, ia harus berhenti sekolah sejak empat bulan lalu setelah didiagnosa kanker nasofaring, kanker ganas yang menyerang bagian hidung dan kepala.
Awalnya, Raka hanya mengalami flu biasa. Tapi benjolan di hidungnya membesar dengan cepat hingga menutupi hidung dan merambat ke mata. Sekarang, mata kirinya sudah tidak bisa melihat, dan setiap malam Raka kesulitan bernapas karena tumor yang semakin besar. Ia sering mengeluh sakit kepala hebat hingga tak bisa tidur.
Berat badannya turun drastis 10 kilogram, tubuhnya melemah, dan keceriaan masa kecilnya perlahan menghilang. Bahkan, Raka sempat berkata dengan lirih saat bercermin,
“Sekarang aku mirip alien ya, Nek…”
Ucapan polos itu membuat Mak Sulastri tak kuasa menahan air mata.
Sejak Raka sakit, ibunya berhenti bekerja dari pabrik untuk merawat Raka penuh waktu. Ayah Raka sudah lama pergi tanpa pernah memberi nafkah. Kini, satu-satunya tumpuan keluarga hanyalah Mak Sulastri—seorang nenek renta yang tak menyerah, meski tubuhnya kian lelah.
Mak Sulastri bahkan rela menjual rumahnya jika itu bisa membantu biaya pengobatan Raka. Namun, hingga kini, utang sebesar Rp2.500.000 masih belum terbayar dari total pinjaman Rp5 juta untuk biaya awal pengobatan.
Meskipun BPJS membantu menanggung biaya medis, biaya transportasi dari Subang ke Bandung tetap menjadi beban berat:
Rp150.000 sekali jalan untuk Mak Sulastri, ibu Raka, dan paman yang menemani Raka berobat. Uang sebanyak itu sulit sekali dikumpulkan dari penghasilan Mak Sulastri sebagai kuli sayur.
Setiap malam, Mak Sulastri terjaga, memandangi foto cucunya waktu masih sehat sambil berdoa:
“Ya Allah, sembuhkan cucu saya. Biarlah saya yang sakit asal dia bisa tertawa lagi.”
Ia tak pernah meminta banyak. Hanya ingin Raka bisa sembuh, bersekolah lagi, dan bermain seperti anak-anak lain.
Kini, Mak Sulastri sangat membutuhkan uluran tangan kita. Bantuan sekecil apa pun akan sangat berarti—untuk biaya transportasi, kebutuhan harian, serta pemulihan Raka yang semakin kritis.
Setiap rupiah yang Anda berikan adalah napas baru bagi Raka dan semangat baru bagi Mak Sulastri untuk terus berjuang.
Mari bersama wujudkan harapan kecil mereka: kesembuhan dan kehidupan yang layak.
Donasi Sekarang.
Sekecil apa pun bantuanmu, akan jadi cahaya besar bagi Raka dan neneknya.
Mari, ulurkan tangan untuk Raka. Bantu ringankan perjuangan Mak Sulastri yang bekerja keras meski hanya sebagai kuli sayuran, demi cucu tersayang. Bantu dengan cara:

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
