“Hasil layangan buruan nih..tiga ribu aja” Tawar Rangga kepada temannya
Menawarkan layangan hasil buruan ke teman-temannya setiap sore sudah biasa Rangga lakukan sejak ibu terkena stroke. Rangga baru 13 tahun, usia yang seharusnya dihabiskan untuk belajar dan bermain, justru harus memanggul beban yang terlalu besar. Sejak sang ibu lumpuh akibat stroke empat tahun lalu, dan ayahnya terbaring lemah karena diabetes melitus, Rangga sadar dialah yang kini harus mengambil peran ayah di rumah.

Setiap pagi, sebelum matahari tinggi, Rangga melatih ibunya berjalan. Ibunya hanya bisa berbaring jika tidak di papah dan digerakkan, otot tubuhnya tidak mampu menopang badan. Rangga juga menemani adik kecilnya belajar di sudut rumah yang sempit. Sekolah? Sudah lama ia tinggalkan. Bukan karena malas, tapi karena tak ada lagi yang bisa menanggung biaya, dan tak ada waktu selain untuk merawat dua orang.

Meski begitu, Rangga tetap berusaha mencari cara untuk bertahan. Ia menjajakan layangan putus hasil buruannya ke teman-teman di lapangan. Demi satu layangan yang menyangkut di pohon, ia tak jarang harus memanjat dan pernah terjatuh. Kadang kalo beruntung ia berhasil menjual tiga layangan sehari, itu pun seharga 3 ribu per buah, 9 ribu rupiah itulah yang harus dibagi untuk makan dan membeli obat bagi ibunya. Kadang, Rangga lebih memilih menahan lapar, dan makan seadanya.
Namun di balik kelelahan itu, Rangga menyimpan keinginan sederhana. Ia ingin bisa sekolah lagi.
“Kalau ibu sudah sembuh total, aku mau sekolah biar bisa bantu ibu lebih baik,” ucapnya lirih. Di wajah kecil itu, tersimpan tekad besar yang tak pernah padam, bahwa kemiskinan atau penderitaan bukan alasan untuk menyerah pada hidup.

Kerabat, Rangga tidak meminta banyak. Ia hanya ingin kembali ke sekolah dan melihat ibunya tersenyum tanpa rasa sakit. Yuk, bantu Rangga melanjutkan pendidikan dan meringankan beban pengobatan orang tuanya. Sekecil apa pun dukunganmu akan menjadi harapan besar bagi bocah layangan ini.