Wina berusia 12 tahun dan malangnya sejak kelas 2 SD, hidupnya berubah. Orang tuanya bercerai. Ibunya menikah lagi dan memiliki anak berusia 3 tahun. Sejak itu, Wina tinggal bersama uwa-nya. Sehingga ia belajar mandiri lebih cepat dari usianya.
Setiap minggu, Wina seharusnya menerima uang Rp50.000 dari ibu dan Rp70.000 dari ayahnya. Tapi kenyataannya tidak selalu begitu. Uangnya sering tidak datang. Pun jika ada, jatah harian Wina hanya sekitar Rp10.000. Dengan uang itu, ia harus bisa mengaturnya untuk bisa makan, jajan, dan memenuhi kebutuhan sendiri. Uwanya hanya mampu membantu soal makan. Itu pun Wina sering menahan diri karena merasa tidak enak sudah lama menumpang.
Wina memiliki amandel yang sudah membesar. Saat bengkak, ia sulit menelan makanan. Dengan usia yang masih muda dan berpenyakit, ia tetap harus bertahan sendiri. Untuk itu, Wina mencoba berjualan cilung, Awalnya Wina hanya membantu uwanya berjualan cilung. Namun lama-lama, Wina berjualan sendiri karena perlu pemasukan tambahan. Sejak kelas 4 SD, setiap pulang sekolah pukul 2 siang, Wina mendorong gerobak cilung yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya. Ia berjualan sampai magrib. Jika ada acara, ia bisa berjualan sampai tengah malam.
Dalam satu hari, Wina pernah berjualan dengan hanya mendapat Rp20.000 dan upah yang Wina terima hanya Rp5.000. Dari uang sekecil itu, Wina membeli sabun, mengisi perut, dan mencoba tetap menabung untuk membeli sepatu. Sepatu yang ia pakai sekarang sudah sempit dan sering membuat kakinya sakit.
Di sekolah, tidak semua teman memahami keadaannya. Dulu, saat membantu uwanya berjualan di depan sekolah, Wina pernah dibully. Ia pulang sambil menangis. Ia tidak melawan. Ia takut ejekan itu semakin menjadi. Namun keesokan harinya, Wina tetap berjualan.
Wina punya mimpi besar, Ia ingin menjadi dokter. Namun sebelum itu, ia ingin masuk pesantren. Sekarang Ia sudah mulai menghafal Al Quran dan sudah hapal 2 juz. Namun keinginan itu terhenti pada satu hal. Ia tidak punya uang.
Upah jualannya habis untuk bertahan hari ini. Jika Wina berhenti berjualan, ia kekurangan makan. Jika ia terus berjualan, sekolah dan kesehatannya terancam. Di usia 12 tahun, Wina dihadapkan dengan pilihan sesulit itu.
Donasi Anda bisa mengubah jalannya. Anda bisa membantu Wina makan dengan layak. Anda bisa membantu membeli sepatu yang tidak melukai kakinya. Anda bisa membantu Wina melangkah ke pesantren dan mendekati cita citanya. Bantuan Anda hari ini bisa menentukan masa depan Wina.
Kalian dapat berpartisipasi dalam campaign ini dengan menyebarkan dan berdonasi dengan cara:
Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com
*Page ini merupakan bagian dari program “Semua Berhak Nyaman”
*Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memberikan Paket Sembako, Bantuan Modal Usaha Penerima Manfaat, dan Bantuan Lainnya kepada para penerima manfaat yang membutuhkan. Selain itu hasil donasi juga akan disalurkan untuk penerima manfaat lainnya berdasarkan analisa kebutuhan pihak Yayasan.
Assalamua'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Hallo, Sobat Berdampak!
Dek Wina merupakan seorang anak dengan kondisi rentan dan bekerja sebagai tukang servis payung keliling. Bantuan yang diberikan berupa santunan tunai.
Alhamdulillah kita telah melaksanakan program penyaluran Semua Berhak Belajar untuk Dek Wina.
Kami mewakili Dek Wina dan keluarga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Sobat Berdampak atas donasi dan dukungan yang telah diberikan.
Alhamdulillah, bantuan sudah diterima dan disambut dengan rasa syukur serta bahagia oleh Dek Wina sekeluarga.
Terima kasih atas kebaikan yang telah dibagikan.
Salam hangat,
Ayo Kita Peduli