Di usia 63 tahun, saat sebagian orang sudah beristirahat menikmati masa tua, Abah Mian justru masih mendorong gerobak es serut tradisionalnya dari kampung ke kampung.
Setiap pagi pukul tujuh, Abah berangkat. Pulang ketika hari sudah gelap. Bukan karena ingin, tapi karena harus. Jika Abah berhenti sehari saja, maka tak ada uang untuk membeli beras. Tak ada yang bisa dimakan di rumah.
Zaman sudah berubah. Anak-anak kini lebih memilih minuman modern. Es serut tradisional Abah makin jarang diminati. Sehari penuh berkeliling, penghasilannya hanya sekitar dua puluh hingga tiga puluh ribu rupiah jika sedang ramai. Saat musim hujan datang, esnya sering mencair sebelum terjual. Modal habis. Tenaga terkuras. Hasilnya nihil.
Tak jarang Abah harus meminjam uang pada tetangga hanya agar bisa berjualan kembali esok hari.
Puluhan tahun berjualan, Abah bukan hanya lelah. Sepedanya sering rusak di tengah jalan hingga harus didorong jauh. Pernah dihina. Pernah dilempar uang oleh pembeli. Saat jualan sepi dan tak ada uang untuk makan, Abah hanya minum air putih. Lalu duduk sejenak, memainkan suling kecilnya… menghibur diri di tengah hidup yang terasa begitu berat.
Di rumah, Abah tinggal bersama istri dan seorang anak yang bekerja serabutan. Tak ada penghasilan tetap. Tak ada jaminan hari esok.
Abah hanya ingin satu hal sederhana: merasakan sedikit kebahagiaan setelah terlalu lama hidup dalam kesusahan.
Sahabat baik, hari ini kita bisa menjadi alasan Abah tersenyum.
Tak harus besar. Yang penting tulus.
1.Klik tombol “DONASI SEKARANG”
2.Masukkan nominal terbaik yang Sahabat mampu
3.Pilih metode pembayaran yang tersedia
Karena bagi kita mungkin kecil, tapi bagi Abah… itu adalah harapan untuk tetap bertahan hidup.
Jika belum bisa berdonasi, mohon bantu dengan membagikan halaman galang dana ini, agar semakin banyak tangan baik yang ikut menggenggam harapan Abah.