Astrie (20 tahun) tak pernah merasakan pelukan ayah dan ibu saat tumbuh dewasa.
Sejak kecil, Astrie penyandang disabilitas intelektual (Down Syndrome) telah kehilangan kedua orang tuanya. Dunia terasa sunyi baginya, karena sejak itu Astrie tumbuh tanpa sosok ayah dan ibu yang seharusnya mendampingi hari-harinya. Kini, satu-satunya tempat ia bergantung adalah kakaknya, Syahroni.
Syahroni (43 tahun) bukan orang berada. Setiap hari ia mendorong gerobak bubur keliling demi menghidupi diri dan adiknya. Penghasilannya tak menentu, kadang hanya Rp150.000-Rp200.000 per hari, bahkan bisa kurang. Dari jumlah itulah Syahroni harus mencukupi kebutuhan makan, tempat tinggal, serta perawatan Astrie yang membutuhkan perhatian ekstra setiap hari. Namun, tak pernah sekalipun ia mengeluh. Baginya, Astrie bukan beban, ia adalah amanah terakhir dari orang tua mereka.
Di luar rumah, Astrie kerap menghadapi luka yang tak terlihat. Ejekan, perundungan, dan pandangan sinis sering ia terima karena kondisi disabilitasnya. Ia juga tak pernah merasakan bangku sekolah, bukan karena tak ingin, melainkan karena keterbatasan biaya, jarak, dan minimnya akses pendidikan yang ramah disabilitas. Saat Astrie mengalami tantrum, Syahroni tak pernah membalas dengan amarah. Ia memilih memeluk, mengelus, dan menenangkan Astrie dengan kasih sayang karena hanya itu yang ia miliki untuk melindungi adiknya.
Hari ini, Astrie dan Syahroni sangat membutuhkan uluran tangan kita.
Donasi Anda akan membantu memenuhi kebutuhan hidup Astrie, meringankan beban Syahroni, serta memberi Astrie kesempatan hidup yang lebih layak dengan perawatan, pendampingan, dan rasa aman yang seharusnya ia dapatkan sejak lama.
Mari kita jadi keluarga untuk Astrie.
Sekecil apa pun donasi Anda, sangat berarti untuk keberlangsungan hidup mereka.
Klik donasi sekarang, karena kasih sayang tidak pernah salah alamat.