Mbah Suwati tinggal sebatang kara, dengan sisa tenaga ia tetap berjualan meski sambil menahan rasa sakit pada kakinya saat berjualan.
Setiap petang mbah Suwati bersiap untuk jualan kacang. Tubuh ringkih dan kaki yang luka itu dipaksa berjalan sampai 10 KM dan harus berjualan sampai larut malam.
“Saya kalau jualan kadang sampai jam 11 malam, kalau nggak habis ya saya bawa pulang lagi”, ujar Mbah Suwati.
Berhari-hari jualan mbah Suwati sepi pembeli, beliau harus rela kacangnya busuk karena tak ada satupun yang membeli dagangannya.
Bahkan Mbah terpaksa sering tahan lapar dan hanya makan singkong dan ubi. Tak jarang mbah Suwati tak bisa kembali jualan karena tak punya uang untuk “kulakan”.
Mbah tinggal di rumah lapuknya yang tak layak. Atapnya banyak yang berlubang, sehingga jika hujan deras maka air otomatis masuk.
Namun hanya ini tempat Mbah berlindung menahan dingin dan terik matahari. Jangankan miliki rumah yang layak, berharap saja rasanya tak mungkin.
Meski hidupnya kesulitan, Mbah Suwati selalu berpegang teguh bahwa Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan hambanya. Kebaikan pun akan selalu datang dari pintu manapun.
#OrangBaik, tak mudah bagi mbah Suwati memikul beban hidupnya sendiri. Mengajak tubuhnya untuk berjalan saja sulit, apalagi berharap bisa hidup dengan layak dari jerih payahnya sendiri.
Teman-teman, mari bantu Mbah Suwati hidup layak dan nyaman di masa tuanya dengan cara:
