Kota seringkali dianggap sebagai panggung megah di mana ambisi dan kemajuan bertemu dalam struktur sosial yang majemuk. Namun, di balik gedung-gedung tinggi yang mencakar langit dan kerumunan berbagai etnis serta golongan yang sibuk, kota menyimpan jurang pemisah yang lebar. Urbanisasi yang masif tidak hanya melahirkan peluang, tetapi juga memicu terbentuknya kantong-kantong marginal yang memaksa masyarakatnya hidup dalam himpitan kelas bawah yang seolah tak terlihat.

Di sudut-sudut yang gelap inilah, kaum miskin kota (urban poor) terjebak dalam lingkaran setan yang melekat dan sulit diputus. Mereka adalah penggerak ekonomi informal yang bekerja tanpa jaminan, berjuang di tengah buruknya sanitasi pemukiman kumuh, hingga harus berkompromi dengan gizi dan kesehatan yang memprihatinkan. Rendahnya partisipasi pendidikan membuat mereka kehilangan "tangga" untuk naik kelas, sementara ruang hidup mereka perlahan terkikis oleh pembangunan yang seringkali tidak berpihak pada mereka yang tak punya kuasa.

Lebih tragis lagi, kaum miskin kota ini kerap menjadi wajah utama dari fenomena sandwich generation yang amat menyesakkan. Mereka tidak hanya harus bertahan hidup di bawah garis kemiskinan, tetapi juga menanggung beban ganda: membiayai masa tua orang tua yang tanpa jaminan sosial, sekaligus berupaya menyelamatkan masa depan anak-anak mereka agar tak bernasib sama. Pada akhirnya, kemiskinan perkotaan bukan sekadar soal kekurangan uang, melainkan tentang hilangnya martabat dan kesempatan di tengah kota yang katanya menawarkan sejuta harapan.

Wujudkan aksi nyata Anda melalui Donasi sekarang. Bersama kita bisa membangun masa depan yang lebih baik dan kebermartabatan untuk sesama