Sejak kecil, Bapak Abdurohman harus hidup berdampingan dengan penyakit kutil yang awalnya hanya muncul di bagian tangan. Namun, setelah menjalani pengobatan, kondisi beliau justru semakin memburuk. Kutil tersebut menyebar ke hampir seluruh tubuh dan hingga kini belum mendapatkan penanganan medis yang tepat dan berkelanjutan.

Penyakit yang dideritanya bukan hanya berdampak secara fisik, tetapi juga secara psikologis. Sejak usia dini, Bapak Abdurohman sering dijauhi oleh lingkungan sekitar karena kondisi kulitnya. Hal ini membuat beliau tumbuh menjadi pribadi yang pendiam dan tertutup, menjalani hidup dengan banyak keterbatasan dan rasa minder.

Dalam kesehariannya, Bapak Abdurohman bekerja sebagai kuli bangunan dengan penghasilan yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Beliau tinggal berdua bersama ayahnya, yang juga bekerja sebagai kuli bangunan. Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, biaya untuk pemeriksaan lanjutan, pengobatan medis, dan perawatan khusus menjadi beban yang sangat berat bagi mereka.
