"Saya juga suka jualan sampai malem kalau dagangannya belum laku"
Di usianya yang Tak lagi muda, 67 tahun, Abah Budi masih harus berkeliling mendorong gerobak kecil berisi mainan anak-anak.
Langkahnya kini tertatih, tubuhnya melemah karena bekas stroke, dan sesak napas yang kerap datang membuatnya sering berhenti di tengah jalan.
Meski demikian, Abah tak pernah menyerah. Ia tetap berikhtiar setiap hari, meski tahu sering kali dagangannya tidak laku sama sekali.
Pernah, seharian penuh ia pulang dengan perut kosong, hanya menahan lapar sambil duduk lemas di rumah.
Kadang, ia rela menjual mainannya dengan harga sangat murah, sekadar agar bisa membeli sebungkus nasi.
Di sela menunggu pembeli, Abah hanya bisa duduk di bawah terik matahari, menghirup viks untuk meredakan napasnya yang tersengal.
Dengan sabar Ia menunggu ada yang membeli dagangannya, bahkan beberapakali Abah Budi sempat ketiduran.
Sang istri tercinta sudah lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa 10 tahun lalu meninggalkan Pak Budi, kini Pak Budi tinggal dengan Anak bungsunya sudah menikah dan tinggal bersama berdesakan di kontrakan yang sempit bersama menantu dan sang cucu ditemani perabot tua dengan kondisi yang memprihatinkan
Abah Budi tidak pernah mengeluh, ia selalu bersyukur atas apa yang ada. Namun, di balik senyumnya, ada perih yang ia sembunyikan perut lapar, tubuh lemah, dagangan yang jarang laku, bahkan Anaknya yang membantu dalam ekonomi kini terkena PHK dan sekarang Abah sendiri yang Nafkahi keluarganya
Orang Baik, mari kita bantu perjuangan Abah Budi
Agar di sisa usianya, ia tidak lagi harus menanggung Semuanya sendiri. Uluran tanganmu bisa meringankan beban perjuangan Abah, sekaligus menghadirkan senyum lega di wajahnya.
Klik Donasi Sekarang
Masukan Nominal Donasi
Pilih Metode Pembayaran
Dapatkan Laporan Via Email
Kamu juga bisa bagikan galang dana ini agar semakin banyak do’a dan dukungan yang terkumpul. Aamiin