
"Kalau sakitnya datang, Abah cuma bisa diem dan nahan..." Kalimat itu keluar dari Abah Anwar (71 tahun), seorang kakek yang sudah lebih dari 2 tahun hidup dengan rasa sakit di mata kirinya. Awalnya hanya bintit kecil,Tidak ada yang menyangka benjolan kecil itu perlahan berubah menjadi penyakit yang membuat mata Abah membesar, memerah, dan menonjol keluar. Kini mata kirinya sudah tidak bisa melihat lagi. rasa sakitnya sering muncul setiap hari.

Abah sebenarnya pernah berobat. Dokter bahkan menyarankan agar beliau segera menjalani tindakan operasi di rumah sakit yang lebih besar. Tapi bagaimana Abah bisa melanjutkan pengobatan kalau untuk makan sehari-hari saja masih kesulitan? Demi berobat, Abah pernah menjual kambing dan ayam peliharaannya. Bahkan beliau harus meminjam uang ke tetangga agar bisa tetap menjalani pemeriksaan. Namun semua itu tetap belum cukup. Pengobatan Abah akhirnya terhenti di tengah jalan karena biaya yang tidak sanggup lagi dipenuhi. Sekarang, saat rasa sakit itu datang, Abah hanya bisa pergi ke puskesmas terdekat untuk mengurangi nyerinya sementara waktu.

Di usia yang sudah 71 tahun, Abah masih berusaha bekerja sebagai buruh serabutan jika ada yang memanggilnya mencangkul atau membersihkan kebun. Upahnya pun tidak menentu, kadang hanya puluhan ribu rupiah. Sementara itu, Mak Kasmi, sang istri yang sudah berusia 68 tahun, setia merawat Abah setiap hari. Beliau membersihkan mata Abah yang terus membesar, menemani saat kesakitan, dan hanya bisa berharap ada jalan agar suaminya bisa berobat kembali.

Abah hanya ingin melanjutkan pengobatan dan punya kesempatan untuk sembuh. "Saya pengen berobat lagi..." Kalimat sederhana itu menjadi harapan yang terus Abah panjatkan dalam setiap doanya. #OrangBaik, kondisi mata Abah terus memburuk dan rasa sakitnya tak kunjung berhenti. Jika pengobatan terus tertunda, kondisi Abah bisa semakin parah. Yuk, bantu Abah Anwar mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pengobatan dan operasi yang sangat dibutuhkannya. Bantu Abah dengan cara :
