Namanya Abah Dadang, usia 59 tahun. Sejak tahun 2018, Abah mencari nafkah dengan membuka jasa timbangan sederhana. Setiap hari, dari pukul 10 atau 11 siang hingga menjelang sore, Abah duduk di lapaknya, berharap ada orang yang datang untuk sekadar menimbang badan.
Tidak ada tarif pasti. Siapa pun boleh membayar seikhlasnya. Kadang Abah hanya mendapat Rp10.000 dalam sehari. Jika sedang “beruntung”, bisa mencapai Rp40.000. Tapi seringkali, hanya Rp500 hingga Rp2.000 yang ia terima. Bahkan tak jarang, orang datang menimbang lalu pergi tanpa membayar.
Dan di hari-hari sepi itu, Abah hanya bisa pulang dengan tangan kosong. Tanpa rumah sendiri, Abah hidup berpindah-pindah. Ia menumpang tidur di rumah saudara, bergantian antara Samoja dan Jalan Pangeran Kornel. Untuk makan, Abah sering mengandalkan belas kasih adik-adiknya atau berhutang di warung dan tukang mie ayam.
Jika tidak ada pemasukan sama sekali, Abah memilih berpuasa bukan karena ingin, tapi karena tidak ada pilihan.
Kondisi fisik Abah pun tidak lagi kuat. Tangan kanannya sudah tidak bisa digerakkan akibat stroke. Kakinya mengalami gangguan sejak penyakit tifus yang pernah ia alami, membuatnya harus berjalan dengan penuh keterbatasan. Bahkan untuk memakai sandal, Abah harus mengikatnya dengan karet agar tidak terlepas.
Namun dalam kondisi seperti itu, Abah tetap berjalan kaki setiap hari menuju lapaknya. Tanpa ongkos, tanpa kepastian.
Kadang ia menumpang kendaraan umum, berharap sopir yang mengenalnya mengizinkan ia naik tanpa membayar.
Saat hujan turun, Abah tidak punya tempat berteduh yang layak. Ia hanya berpindah ke warung atau tempat seadanya, menahan dingin dan basah. Dalam hati, Abah mengaku… hujan adalah salah satu hal yang paling ia takuti.
Pernah suatu waktu, Abah ditipu. Handphone dan uang hasil jerih payahnya dibawa kabur oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Sejak itu, hidupnya semakin sulit.
Dulu, Abah sempat berobat ke dokter. Tapi kini, ia tidak lagi mampu melanjutkan pengobatan karena keterbatasan biaya. Padahal, dalam hatinya, masih tersimpan harapan sederhana… untuk bisa berjalan normal kembali.
Di balik semua itu, ada satu hal yang paling menyakitkan bagi Abah. Bukan lapar, Bukan lelah, Tapi ketika ada orang yang menggunakan jasanya… lalu pergi tanpa membayar.
Di usia yang seharusnya menjadi masa istirahat, Abah Dadang masih harus berjuang sendirian.
Hari ini, Abah tidak butuh belas kasihan.
Ia hanya butuh kesempatan untuk hidup sedikit lebih layak.
1. Klik Donasi Sekarang
2. Masukkan Nominal Donasi
3. Pilih Metode Pembayaran
4. Dapatkan Laporan via Email

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com

*Page ini merupakan bagian dari program Semua Berhak Nyaman.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.
*Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memberikan Paket Sembako, Bantuan Modal Usaha Penerima Manfaat, dan Bantuan Lainnya kepada para penerima manfaat yang membutuhkan. Selain itu hasil donasi juga akan disalurkan untuk penerima manfaat lainnya berdasarkan analisa kebutuhan pihak Yayasan.