Abah Isep adalah penyandang disabilitas rungu wicara dan cerebral palsy sejak lahir. Di usia 55 tahun, ia tetap berjualan kopi setiap pagi hingga siang hari demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan kondisi tubuh yang lemah dan tangan yang terus bergetar, Abah Isep harus dibantu kakak dan keponakannya untuk berangkat serta pulang dari tempat berjualan.
Meski penghasilannya hanya sekitar Rp20.000–Rp50.000 per hari dan tidak menentu, Abah Isep tetap berusaha mandiri. Namun keterbatasannya sering dimanfaatkan orang yang membawa barang dagangannya tanpa membayar, bahkan ia pernah kehilangan uang hasil jualan. Saat terjatuh hingga kepalanya berdarah pun, Abah Isep tetap kembali berjualan karena tidak memiliki pilihan lain.