Di usia yang seharusnya diisi dengan istirahat, Abah Doi justru masih harus berjualan dengan jarak yang berkilo- kilometer dan keterbatasan tubuhnya. Usianya sudah menginjak 80 tahun, namun hidup belum memberinya jeda untuk benar-benar tenang.
Abah Doi menderita rematik menahun, pernah terserang strok ringan, bahkan kaki kirinya kembali membengkak memar akibat tertimpa kayu bakar, dan penglihatan kedua mata abah terganggu akibat katarak. Setiap langkah abah tertatih dan sangat hati hati, tak jarang abah ketika berjualan mainan ayam klotok abah sering tersandung karena penglihatan dan juga cara jalan abah yang diseret sangat memungkin sering terjatuh. Setiap langkah perjalanan abah menjemput rezeky merupakan sebuah ikhtiar dan bukti bahwa abah tetap harus berjuang meski raga tak lagi se kuat dulu.
Kini Abah tinggal ikut anaknya. Karena sang istri sudah lama berpulang, abah bilang ..”Sekarang abah tinggal sendiri ga ada yang urus karna ibu sudah lama berpulang....” ucapnya dengan nada yang sangat lirih. Tapi meskipun dengan keterbatasan kondisi fisiknya tak membuat Abah hanya diam. Dengan sisa tenaga yang ada, Abah masih sering berjualan keliling dan mengambil kayu bakar. Bukan karena ingin terlihat kuat, tapi karena tak ingin menjadi beban. Karena dalam hati kecilnya, Abah ingin tetap berguna. Meskipun dengan penghasilan yang sangat tidak menentu namun abah tetap berikhtiar menjemput rezeky itu.
Dulu, Abah Doi adalah pengepul palawija untuk menghidupi keluarganya. Tangannya pernah kuat, langkahnya pernah tegap. Tapi waktu dan penyakit perlahan merampas semuanya. Yang tersisa kini hanyalah tekad dan harga diri seorang ayah. Di balik tubuh renta dan sakit-sakitan itu, ada jiwa yang tak pernah menyerah. Ada hati yang terus berusaha, meski dunia terasa semakin sempit baginya.
Abah Doi tidak pernah meminta. Tidak pernah mengeluh. Ia hanya menjalani hari demi hari, sekuat yang ia bisa. Semoga masih ada tangan-tangan baik yang mau menggenggam Abah Doi, meringankan langkahnya, dan memberi sedikit kehangatan di sisa usianya. Karena di usia 80 tahun, seharusnya Abah sudah dipeluk oleh ketenangan, bukan oleh penderitaan. Yu bantu abah doi untuk bisa berobat mata kataraknya dan juga kakinya untuk sembuh Mari bantu Abah Dengan cara :
1.Klik tombol “DONASI SEKARANG”
2.Masukkan nominal terbaik yang Sahabat mampu
3.Pilih metode pembayaran yang tersedia
Jika belum bisa berdonasi, mohon bantu dengan membagikan halaman galang dana ini, agar semakin banyak tangan baik yang ikut menggenggam harapan Abah.
