Di usianya yang telah menyentuh 74 tahun, Abah Firman harus menantang kerasnya jalanan seorang diri. Dari pagi hingga malam hari, langkah kaki rentanya setia menyusuri sudut-sudut kota demi menawarkan jasa pijat keliling. Tanpa mematok tarif pasti, Abah selalu menerima berapa pun nominal yang diberikan warga dengan penuh rasa syukur. Pahitnya, penghasilan bersih Abah sering kali hanya berkisar tiga puluh ribu rupiah sehari, bahkan tak jarang seharian penuh beliau harus pulang dengan tangan kosong tanpa sepeser pun uang di kantong demi sekadar mengisi perutnya yang lapar.

Langkah Abah semakin berat akibat keterbatasan fisik yang teramat memprihatinkan; mata sebelah kirinya telah mengalami kebutaan total akibat efek kelilipan debu yang tak tertangani di masa lalu. Tanpa sanak keluarga di sisinya dan telah berbulan-bulan kehilangan kontak dengan sang anak, Abah terpaksa menjadikan emperan toko sebagai tempatnya berlabuh. Di atas semen keras tanpa alas yang layak, Abah harus berteman dengan gigilnya angin malam dan teriknya terik siang. Penderitaan beliau kian bertambah ketika barang serta sisa uangnya pernah sirna begitu saja saat terjaring penertiban petugas, hingga menyisakan duka mendalam bagi lansia yang hanya ingin mengais rezeki secara halal ini.

Di tengah kehebatannya bertahan hidup, Abah harus menelan berbagai perlakuan tak menyenangkan yang mengiris hati. Beliau pernah direndahkan dan dituduh berutang di sebuah warung makan, padahal prinsip hidup Abah begitu teguh: beliau lebih memilih menahan lapar berhari-hari daripada harus mengutang kepada orang lain. Meski sering dipandang sebelah mata dan dimanfaatkan tenaga jasanya, hati Abah Firman tetap lembut. Beliau senantiasa tulus membantu memijat siapa saja yang membutuhkan bantuan, karena Abah tahu betul betapa menyakitkannya merasa sakit namun tak memiliki biaya untuk berobat.

Di balik derai air mata dan senyum ketegarannya, Abah Firman menyimpan impian sederhana yang sangat mulia di masa senjanya. Beliau hanya ingin memiliki modal usaha kios kopi kecil agar tak perlu lagi memikul lelah di jalanan, serta memiliki biaya untuk memeriksa mata kirinya ke rumah sakit dengan harapan bisa kembali melihat dunia dengan terang. Uluran tangan dan kepedulian dari kita hari ini adalah seberkas harapan yang sanggup memberikan tempat tinggal layak, biaya pengobatan, dan modal usaha yang aman bagi Abah. Bersama Ayo Kita Peduli, mari bantu Abah Firman menjalani sisa hidupnya dengan lebih tenang dan bermartabat.
Bantu Abah Firman dapatkan modal usaha kios kecil, jaminan pemeriksaan mata, dan tempat tinggal yang layak serta hangat.
- Klik “DONASI SEKARANG” :
- Masukkan nominal donasinya :
- Pilih metode pembayaran :
- Dapatkan laporan via e-mail :

*Page ini merupakan page Campaign Utama dan memilki turunan page Fundraiser sebagai medium penyebaran informasi dan penggalangan dana untuk para penerima manfaat.
*Dalam membantu penyebaran informasi terkait program ini dan program turunannya dalam fitur "Fundraiser", kami melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak mulai dari Media Partner, Organisasi, serta Publik Figur agar informasi mengenai program ini dapat tersebar luas dan menjangkau sebanyak-banyaknya orang untuk berkontribusi bersama.
*Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memberikan Paket Hadiah Sembako, Bantuan Modal Usaha Penerima Manfaat, dan Bantuan Lainnya kepada para penerima manfaat yang membutuhkan. Selain itu hasil donasi juga akan disalurkan untuk penerima manfaat lainnya berdasarkan analisa kebutuhan pihak Yayasan.

Beberapa informasi:
*Ayo Kita Peduli merupakan NGOs yang berdiri sejak 2023 dan berada di bawah naungan Ayo Berdampak Berdaya. Dengan tagline #BerdampakBerdaya kami berfokus pada masalah kemiskinan kelas sosial rentan perkotaan dan pedesaan melalui berbagai program dan campaign pemberdayaan untuk upaya peningkatan kesejahteraan.
Contact and More Information:
Instagram: @ayokita.peduli
WhatsApp: +62 821-2908-8174
Email: ayoberdampakberdaya.id@gmail.com