Abah Ii kini berusia 69 tahun. Tujuh tahun lalu ia masih bekerja sebagai supir, namun kondisi membuatnya harus berhenti. Sejak itu, Abah kesulitan memenuhi kebutuhan keluarganya yang berjumlah tujuh orang dalam satu rumah.
Demi memastikan beras tetap ada di dapur, Abah berjualan takjil dengan mengambil untung hanya Rp1.000 per porsi kolak. Penghasilannya rata-rata sekitar Rp30.000 per hari, jumlah yang bahkan tak cukup untuk menutup kebutuhan makan, apalagi cicilan utang. Sementara itu, istrinya yang berusia 61 tahun membantu seadanya dengan bekerja serabutan di konveksi dan membersihkan kos-kosan, meski panggilan kerja tak lagi sesering dulu.
Beban Abah tak hanya soal ekonomi. Ia menanggung anak yang ditinggal suami bersama tiga cucu, juga mertua yang telah berusia lebih dari 100 tahun dan sudah pikun. Anak bungsunya terpaksa putus sekolah karena biaya kebutuhan lain tak mampu dipenuhi, meski sekolahnya gratis. Abah sendiri mengidap katarak dan asam urat ketika kambuh, ia hanya bisa terduduk menahan sakit. Pernah ia berangkat berjualan dengan ongkos terakhir Rp20.000, lalu terpaksa berjalan kaki jauh karena tak punya biaya tambahan. Ia pulang tanpa hasil dan jatuh sakit lebih parah.
Di tengah kondisi itu, Abah dihimpit utang hampir Rp20 juta. Rumah mereka di Soreang kini terancam disita bank karena menjadi jaminan pinjaman. Cicilan Rp650.000 per bulan terus menghantui, bahkan sempat didatangi debt collector karena telat membayar. Utang itu bukan untuk kepentingan pribadi Abah, namun demi membantu anak dan kebutuhan persalinan keluarga. Kini, di usia senja, Abah masih harus memikul beban yang bahkan sejak awal bukan untuk dirinya. Ketakutannya sederhana: jangan sampai saat ia tiada nanti, istri dan anak-anaknya mewarisi utang yang belum lunas.