Abah Isep hidup dalam keterbatasan fisik sejak lahir. Ia tidak bisa berbicara dan tubuhnya jauh lebih lemah dibanding orang lain. Saat masih muda, Abah masih sanggup beraktivitas meski perlahan-lahan, bahkan sempat berjualan keliling sambil menjinjing kotak dagangan. Namun, sejak usianya menginjak 50 tahun, kondisinya menurun drastis. Tubuhnya mulai kejang, tangan menekuk sendiri, dan kini untuk berdiri pun ia membutuhkan bantuan.
Pernah abah saat berjualan terjatuh dan tidak bisa bangun kembali sampai diantar pulang oleh warga yang melihat. Kondisi ini membuat Abah Isep memerlukan pendampingan penuh saat berjualan. Terlebih lagi, ada kekhawatiran karna pernah terjadi hal buruk, seperti orang jahat yang mengambil hasil dagangannya, Abah Isep tidak akan mampu membela diri dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, dan hal tersebut tentu sangat membahayakan keselamatannya.Â
Di tengah kondisi itu, Abah Isep tetap memilih untuk tidak menyerah. Ia tinggal bersama kakak kandungnya, Mak Eulis, dan suami Mak Eulis, Pa Bunbun, yang sejak lama menjadi tulang punggung keluarga. Meskipun penghasilan Pa Bunbun sebagai tukang ojek dan kuli bangunan hanya sekitar Rp20.000 - Rp30.000 per hari, ia tetap setia menafkahi semua anggota keluarga, termasuk Abah Isep. Tak ada keluhan, hanya syukur dan keteguhan hati.
Â
Meski Abah Isep tak lagi bisa berjalan sendiri, semangatnya untuk bekerja tak pernah padam. Ia gelisah jika hanya diam di rumah. Ia ingin tetap bermanfaat, ingin ikut mencari rezeki walau tubuhnya sudah tak sanggup berdiri tegak. Keluarga sempat menolak niat itu karena khawatir akan keselamatannya. Namun, tekad Abah begitu kuat hingga akhirnya keluarga mengalah dan mengizinkannya berjualan dengan syarat, harus selalu didampingi dan diawasi.
Kini, setiap kali Abah ingin berjualan, Pa Bunbun yang setia mengantar dan menjemput. Di tengah usianya yang juga tak muda, dan beban ekonomi yang berat, Pa Bunbun tetap sabar mendampingi adik iparnya ke mana pun. Sungguh, keluarga ini hidup dari kasih dan pengorbanan. Tak banyak yang mereka punya, tapi hati mereka luas melebihi dunia.
Â
Kisah Abah Isep adalah potret ketegaran dalam keterbatasan. Tentang bagaimana cinta keluarga bisa menjadi tempat berpulang dan bertahan. Tentang bagaimana seorang pria yang tak bisa bicara, justru menyampaikan pesan paling dalam bahwa hidup tak harus sempurna untuk tetap berarti. Mari bersama kita bantu meringankan langkah mereka, karena sekecil apa pun bantuan, bisa menjadi harapan besar bagi keluarga ini.
Alhamdulillah, kami kembali menyampaikan kabar terbaru mengenai kondisi Abah Isep. Saat ini Abah Isep sedang dalam keadaan kurang sehat karena mengalami demam, sehingga aktivitas berjualannya sementara waktu menjadi terhambat. Faktor usia membuat kondisi tubuh beliau sudah tidak bisa terlalu kelelahan dan membutuhkan waktu istirahat yang lebih banyak agar kesehatannya kembali pulih.
Biasanya Abah Isep tetap bersemangat berjualan demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Namun beberapa hari terakhir beliau lebih banyak beristirahat di rumah agar kondisi kesehatannya tidak semakin menurun. Meski demikian, Abah Isep tetap memiliki semangat besar untuk kembali berjualan ketika tubuhnya sudah membaik.
Bantuan sembako dan santunan tunai dari para donatur sangat membantu keadaan Abah Isep saat ini, terutama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama beliau belum bisa berjualan seperti biasanya. Dukungan dan kepedulian dari orang-orang baik menjadi penyemangat tersendiri bagi Abah Isep dan keluarga.
Terima kasih kepada seluruh donatur yang telah membersamai perjuangan Abah Isep. Semoga segala kebaikan Ayah Bunda dan Kakak-kakak dibalas dengan keberkahan, kesehatan, serta rezeki yang berlipat ganda 🤲
Mohon doanya semoga Abah Isep segera diberikan kesembuhan, kesehatan, dan kekuatan agar dapat kembali beraktivitas seperti sediakala.